<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Yusniraharjo's Blog</title>
	<atom:link href="http://yusniraharjo.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://yusniraharjo.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 01 Jun 2009 15:17:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='yusniraharjo.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Yusniraharjo's Blog</title>
		<link>http://yusniraharjo.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://yusniraharjo.wordpress.com/osd.xml" title="Yusniraharjo&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://yusniraharjo.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN SEPSIS NEONATORUM</title>
		<link>http://yusniraharjo.wordpress.com/2009/06/01/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengan-sepsis-neonatorum/</link>
		<comments>http://yusniraharjo.wordpress.com/2009/06/01/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengan-sepsis-neonatorum/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 15:17:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yusniraharjo</dc:creator>
				<category><![CDATA[SCIENCE OF NURSING]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yusniraharjo.wordpress.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[A. Definisi Sepsis merupakan respon tubuh terhadap infeksi yang menyebar melalui darah dan jaringan lain. Sepsis terjadi pada kurang dari 1% bayi baru lahir tetapi merupakan penyebab daro 30% kematian pada bayi baru lahir. Infeksi bakteri 5 kali lebih sering terjadi pada bayi baru lahir yang berat badannya kurang dari 2,75 kg dan 2 kali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusniraharjo.wordpress.com&amp;blog=7440325&amp;post=83&amp;subd=yusniraharjo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>A. Definisi</strong></p>
<p>Sepsis merupakan respon tubuh terhadap infeksi yang menyebar melalui darah dan jaringan lain. Sepsis terjadi pada kurang dari 1% bayi baru lahir tetapi merupakan penyebab daro 30% kematian pada bayi baru lahir. Infeksi bakteri 5 kali lebih sering terjadi pada bayi baru lahir yang berat badannya kurang dari 2,75 kg dan 2 kali lebih sering menyerang bayi laki-laki.</p>
<p>Pada lebih dari 50% kasus, sepsis mulai timbul dalam waktu 6 jam setelah bayi lahir, tetapi kebanyakan muncul dalamw aktu 72 jam setelah lahir.<br />
Sepsis yang baru timbul dalam waktu 4 hari atau lebih kemungkinan disebabkan oleh infeksi nasokomial (infeksi yang didapat di rumah sakit).</p>
<p>Pembagian Sepsis:</p>
<ol>
<li><strong>Sepsis dini </strong>–&gt; terjadi 7 hari pertama kehidupan. <em>Karakteristik</em> : sumber organisme pada saluran genital ibu dan atau cairan amnion, biasanya fulminan dengan angka mortalitas tinggi.</li>
<li><strong>Sepsis lanjutan/nosokomial</strong> –&gt; terjadi setelah minggu pertama kehidupan dan didapat dari lingkungan pasca lahir. <em>Karakteristik</em> : Didapat dari kontak langsung atau tak langsung dengan organisme yang ditemukan dari lingkungan tempat perawatan bayi, sering mengalami komplikasi.</li>
</ol>
<p><strong>B. Etiologi</strong></p>
<p>Penyebab neonatus sepsis/sepsis neonatorum adalah berbagai macam kuman seperti bakteri, virus, parasit, atau jamur. Sepsis pada bayi hampir selalu disebabkan oleh bakteri.</p>
<p>Beberapa komplikasi kehamilan yang dapat meningkatkan risiko terjadinya sepsis pada neonatus antara lain :</p>
<ul>
<li>Perdarahan</li>
<li>Demam yang terjadi pada ibu</li>
<li>Infeksi pada uterus atau plasenta</li>
<li>Ketuban pecah dini (sebelum 37 minggu kehamilan)</li>
<li>Ketuban pecah terlalu cepat saat melahirkan (18 jam atau lebih sebelum melahirkan)</li>
<li>Proses kelahiran yang lama dan sulit</li>
</ul>
<p><strong>C. Tanda dan Gejala</strong></p>
<p>Gejala infeksi sepsis pada neonatus ditandai dengan:</p>
<ul>
<li>Bayi tampak lesu</li>
<li>tidak kuat menghisap</li>
<li>denyut jantung lambat dan suhu tubuhnya turun-naik</li>
<li>gangguan pernafasan</li>
<li>kejang</li>
<li>jaundice (sakit kuning)</li>
<li>muntah</li>
<li>diare</li>
<li>perut kembung</li>
</ul>
<p><strong>D. Faktor Risiko</strong></p>
<ol>
<li>Sepsis Dini</li>
</ol>
<ul>
<li>Kolonisasi maternal dalam GBS, infeksi fekal</li>
<li>Malnutrisi pada ibu</li>
<li>Prematuritas, BBLR</li>
</ul>
<p>2. Sepsis Nosokomial</p>
<ul>
<li>BBLR–&gt;berhubungan dengan pertahanan imun</li>
<li>Nutrisi Parenteral total, pemberian makanan melalui selang</li>
<li>Pemberian antibiotik (superinfeksi dan infeksi organisme resisten)</li>
</ul>
<p><strong>E. Pencegahan</strong></p>
<ul>
<li><strong>Pada masa Antenatal </strong>–&gt; Perawatan antenatal meliputi pemeriksaan kesehatan ibu secara berkala, imunisasi, pengobatan terhadap penyakit infeksi yang diderita ibu, asupan gizi yang memadai, penanganan segera terhadap keadaan yang dapat menurunkan kesehatan ibu dan janin. Rujuk ke pusat kesehatan bila diperlukan.</li>
<li><strong>Pada masa Persalinan</strong> –&gt; Perawatan ibu selama persalinan dilakukan secara aseptik.</li>
<li><strong>Pada masa pasca Persalinan</strong> –&gt; Rawat gabung bila bayi normal, pemberian ASI secepatnya, jaga lingkungan dan peralatan tetap bersih, perawatan luka umbilikus secara steril.</li>
</ul>
<p><strong>F. Prognosis</strong></p>
<p>25% bayi meninggal walaupun telah diberikan antibiotik dan perawatan intensif.</p>
<p><strong>G. Asuhan Keperawatan</strong></p>
<p><strong> Pengkajian :</strong></p>
<ul>
<li>Status sosial ekonomi</li>
<li>Riwayat parawatan antenatal</li>
<li>Riwayat penyakit menular seksual</li>
<li>Riwayat penyakit infeksi selama kehamilan dan saat persalinan (toksoplasma, rubeola, toksemia gravidarum, dan amnionitis)</li>
<li>Pemeriksaan fisik</li>
</ul>
<p><strong> Diagnosa Keperawatan </strong></p>
<ol>
<li>Infeksi b.d penularan infeksi pada bayi sebelum dan sesudah kelahiran</li>
</ol>
<p>Tujuan : Mengenali secara dini bayi yang mempunyai risiko menderita infeksi</p>
<p>Intervensi :</p>
<ul>
<li>Kaji bayi yang berisiko menderita infeksi</li>
<li>Kaji tanda2 infeksi meliputi suhu tubuh yang tidak stabil, apnea, ikterus, refleks menghisap, minum sedikit, distensi abdomen.</li>
<li>Kaji tanda2 infeksi yang berhubungan dengan sistem organ</li>
</ul>
<p>2. Kebutuhan Nutrisi: kurang dari kebutuhan b.d intoleransi terhadap minuman</p>
<p>Tujuan : Memelihara kebutuhan nutrisi bayi, BB bayi normal, terhindar dari dehidrasi</p>
<p>Intervensi :</p>
<ul>
<li>Kaji intoleransi terhadap minuman</li>
<li>Hitung kebutuhan minum bayi</li>
<li>Ukur intake dan output</li>
<li>Timbang BB bayi secara berkala</li>
<li>Catat perilaku makan dan aktivitas secara akurat</li>
<li>Pantau koordinasi refleks menghisap dan menelan.</li>
</ul>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yusniraharjo.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yusniraharjo.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yusniraharjo.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yusniraharjo.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yusniraharjo.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yusniraharjo.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yusniraharjo.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yusniraharjo.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yusniraharjo.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yusniraharjo.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yusniraharjo.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yusniraharjo.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yusniraharjo.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yusniraharjo.wordpress.com/83/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusniraharjo.wordpress.com&amp;blog=7440325&amp;post=83&amp;subd=yusniraharjo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yusniraharjo.wordpress.com/2009/06/01/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengan-sepsis-neonatorum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9f3bc14133df71eef8a5cf6bf225199c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yusni raharjo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN POLIOMYELITIS</title>
		<link>http://yusniraharjo.wordpress.com/2009/06/01/asuhan-keperawatan-pada-dengan-poliomyelitis/</link>
		<comments>http://yusniraharjo.wordpress.com/2009/06/01/asuhan-keperawatan-pada-dengan-poliomyelitis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 02:26:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yusniraharjo</dc:creator>
				<category><![CDATA[SCIENCE OF NURSING]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yusniraharjo.wordpress.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[A. Pengertian Poliomilitis adalah penyakit menular yang akut disebabkan oleh virus dengan predileksi pada sel anterior massa kelabu sumsum tulang belakang dan inti motorik batang otak, dan akibat kerusakan bagian susunan syaraf tersebut akan terjadi kelumpuhan serta autropi otot. Poliomielitis atau polio, adalah penyakit paralysis atau lumpuh yang disebabkan oleh virus. Agen pembawa penyakit ini, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusniraharjo.wordpress.com&amp;blog=7440325&amp;post=80&amp;subd=yusniraharjo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A. Pengertian<br />
Poliomilitis adalah penyakit menular yang akut disebabkan oleh virus dengan predileksi pada sel anterior massa kelabu sumsum tulang belakang dan inti motorik batang otak, dan akibat kerusakan bagian susunan syaraf tersebut akan terjadi kelumpuhan serta autropi otot.</p>
<p>Poliomielitis atau polio, adalah penyakit paralysis atau lumpuh yang disebabkan oleh virus. Agen pembawa penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan poliovirus (PV), masuk ketubuh melalui mulut, menginfeksi saluran usus. Virus ini dapat memasuki aliran darah dan mengalir kesistem saraf pusat menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan (paralysis).</p>
<p>B. Gambaran Klinis<br />
Poliomielitis terbagi menjadi empat bagian yaitu :<br />
Poliomielitis asimtomatis : Setelah masa inkubasi 7-10 hari, tidak terdapat gejala karena daya tahan tubuh cukup baik, maka tidak terdapat gejala klinik sama sekali.<br />
Poliomielitis abortif : Timbul mendadak langsung beberapa jam sampai beberapa hari. Gejala berupa infeksi virus seperti malaise, anoreksia, nausea, muntah, nyeri kepala, nyeri tenggorokan, konstipasi dan nyeri abdomen.<br />
Poliomielitis non paralitik : Gejala klinik hamper sama dengan poliomyelitis abortif , hanya nyeri kepala, nausea dan muntah lebih hebat. Gejala ini timbul 1-2 hari kadang-kadang diikuti penyembuhan sementara untuk kemudian remisi demam atau masuk kedalam fase ke2 dengan nyeri otot. Khas untuk penyakit ini dengan hipertonia, mungkin disebabkan oleh lesi pada batang otak, ganglion spinal dan kolumna posterior.<br />
Poliomielitis paralitik : Gejala sama pada poliomyelitis non paralitik disertai kelemahan satu atau lebih kumpulan otot skelet atau cranial. Timbul paralysis akut pada bayi ditemukan paralysis fesika urinaria dan antonia usus. Adapun bentuk-bentuk gejalanya antara lain :<br />
Bentuk spinal. Gejala kelemahan / paralysis atau paresis otot leher, abdomen, tubuh, diafragma, thorak dan terbanyak ekstremitas.<br />
Bentuk bulbar. Gangguan motorik satu atau lebih syaraf otak dengan atau tanpa gangguan pusat vital yakni pernapasan dan sirkulasi.<br />
Bentuk bulbospinal. Didapatkan gejala campuran antara bentuk spinal dan bentuk bulbar.<br />
Kadang ensepalitik. Dapat disertai gejala delirium, kesadaran menurun, tremor dan kadang kejang.<br />
C. Etiologi<br />
Penyebab poliomyelitis Family Pecornavirus dan Genus virus, dibagi 3 yaitu :<br />
Brunhilde<br />
Lansing<br />
Leon ; Dapat hidup berbulan-bulan didalam air, mati dengan pengeringan /oksidan. Masa inkubasi : 7-10-35 hari<br />
Klasifikasi virus</p>
<p>Golongan: Golongan IV ((+)ssRNA)</p>
<p>Familia: Picornaviridae</p>
<p>Genus: Enterovirus</p>
<p>Spesies: Poliovirus</p>
<p>D. Penularan<br />
Cara penularannya dapat melalui :<br />
a. Inhalasi<br />
b. Makanan dan minuman<br />
c. Bermacam serangga seperti lipas, lalat, dan lain-lain.<br />
Penularan melalui oral berkembambang biak diusus→verimia virus+DC faecese beberapa minggu.</p>
<p>E. Pencegahan<br />
Cara pencegahan dapat dilalui melalui :<br />
1. Imunisasi<br />
2. jangan masuk daerah endemis<br />
3. jangan melakukan tindakan endemis</p>
<p>F. Patofisiologi<br />
Virus hanya menyerang sel-sel dan daerah susunan syaraf tertentu. Tidak semua neuron yang terkena mengalami kerusakan yang sama dan bila ringan sekali dapat terjadi penyembuhan fungsi neuron dalam 3-4 minggu sesudah timbul gejala. Daerah yang biasanya terkena poliomyelitis ialah :<br />
Medula spinalis terutama kornu anterior,<br />
Batang otak pada nucleus vestibularis dan inti-inti saraf cranial serta formasio retikularis yang mengandung pusat vital,<br />
Sereblum terutama inti-inti virmis,<br />
Otak tengah “midbrain” terutama masa kelabu substansia nigra dan kadang-kadang nucleus rubra,<br />
Talamus dan hipotalamus,<br />
Palidum dan<br />
Korteks serebri, hanya daerah motorik.</p>
<p>G. Komplikasi<br />
1. Hiperkalsuria<br />
2. Melena<br />
3. Pelebaran lambung akut<br />
4. Hipertensi ringan<br />
5. Pneumonia<br />
6. Ulkus dekubitus dan emboli paru<br />
7. Psikosis</p>
<p>H. Pemeriksaan Diagnostik<br />
1. Pemeriksaan Lab :<br />
Pemeriksaan darah<br />
Cairan serebrospinal<br />
Isolasi virus volio<br />
2. Pemeriksaan radiology</p>
<p>I. Penatalaksanaan Medis</p>
<p>1. Poliomielitis aboratif<br />
• Diberikan analgetk dan sedative<br />
• Diet adekuat<br />
• Istirahat sampai suhu normal untuk beberapa hari,sebaiknya dicegah aktifitas yang berlebihan selama 2 bulan kemudian diperiksa neurskeletal secara teliti.</p>
<p>2. Poliomielitis non paralitik<br />
• Sama seperti aborif<br />
• Selain diberi analgetika dan sedative dapat dikombinasikan dengan kompres hangat selama 15 – 30 menit,setiap 2 – 4 jam.</p>
<p>3. Poliomielitis paralitik<br />
• Perawatan dirumah sakit<br />
• Istirahat total<br />
• Selama fase akut kebersihan mulut dijaga<br />
• Fisioterafi<br />
• Akupuntur<br />
• Interferon</p>
<p>Poliomielitis asimtomatis tidak perlu perawatan.Poliomielitis abortif diatasi dengan istirahat 7 hari jika tidak terdapat gejala kelainan aktifitas dapat dimulai lagi.Poliomielitis paralitik/non paralitik diatasi dengan istirahat mutlak paling sedikit 2 minggu perlu pemgawasan yang teliti karena setiap saat dapat terjadi paralysis pernapasan.<br />
Fase akut :<br />
Analgetik untuk rasa nyeri otot.Lokal diberi pembalut hangat sebaiknya dipasang footboard (papan penahan pada telapak kaki) agar kaki terletak pada sudut yang sesuai terhadap tungkai..Pada poliomielitis tipe bulbar kadang-kadang reflek menelan tergaggu sehingga dapat timbul bahaya pneumonia aspirasi dalam hal ini kepala anak harus ditekan lebih rendah dan dimiringkan kesalah satu sisi.<br />
Sesudah fase akut :<br />
Kontraktur.atropi,dan attoni otot dikurangi dengan fisioterafy. Tindakan ini dilakukan setelah 2 hari demam hilang.</p>
<p>J. Pengkajian<br />
1. Riwayat kesehatan<br />
Riwayat pengobatan penyakit-penyakit dan riwayat imunitas<br />
2. pemeriksaan fisik<br />
a. Nyeri kepala<br />
b. Paralisis<br />
c. Refleks tendon berkurang<br />
d. Kaku kuduk<br />
e. Brudzinky</p>
<p>K. Diagnosa Keperawatan<br />
1. Perubahan nutrisi dari kebutuhan tubuh b/d anoreksia, mual dan muntah<br />
2. Hipertermi b/d proses infeksi<br />
3. resiko ketidakefektifan pola nafas dan ketidakefektifan jalan nafas b/d paralysis otot<br />
4. Nyeri b/d proses infeksi yang menyerang syaraf<br />
5. Gangguan mobilitas fisik b/d paralysis<br />
6. Kecemasan pada anak dan keluarga b/d kondisi penyakit.</p>
<p>L. Intervensi</p>
<p>Dx 1 :<br />
1.1. Kaji pola makan anak<br />
Mengetahui intake dan output anak<br />
1.2. Berikan makanan secara adekuat<br />
Untuk mencakupi masukan sehingga output dan intake seimbang<br />
1.3. Berikan nutrisi kalori, protein, vitamin dan mineral.<br />
1.4. Timbang berat badan<br />
Mengetahui perkembangan anak<br />
1.5. Berikan makanan kesukaan anak<br />
Menambah masukan dan merangsang anak untuk makan lebih banyak<br />
1.6. Berikan makanan tapi sering<br />
Mempermudah proses pencernaan</p>
<p>Dx 2 :<br />
2.1. Pantau suhu tubuh<br />
Untuk mencegah kedinginan tubuh yang berlebih<br />
2.2. jangan pernah menggunakan usapan alcohol saat mandi/kompres<br />
Dapat menyebabkan efek neurotoksi<br />
2.3. hindari mengigil<br />
2.4. Kompres mandi hangat durasi 20-30 menit<br />
Dapat membantu mengurangi demam<br />
Dx 3 :<br />
3.1. Evaluasi frekuensi pernafasan dan kedalaman<br />
Pengenalan dini dan pengobatan ventilasi dapat mencegah komplikasi.<br />
3.2. Auskultasi bunyi nafas<br />
Mengetahui adanya bunyi tambahan<br />
3.3. Tinggikan kepala tempat tidur, letakkan pada posisi duduk tinggi atau semi fowler<br />
Merangsang fungsi pernafasan atau ekspansi paru<br />
3.4. Berikan tambahan oksigen<br />
Meningkatkan pengiriman oksigen ke paru</p>
<p>Dx 4 :<br />
4.1. Lakukan strategi non farmakologis untuk membantu anak mengatasi nyeri<br />
Theknik-theknik seperti relaksasi, pernafasan berirama, dan distraksi dapat membuat nyeri dan dapat lebih di toleransi<br />
4.2. Libatka orang tua dalam memilih strategi<br />
Karena orang tua adalah yang lebih mengetahui anak<br />
4.3. Ajarkan anak untuk menggunakan strategi non farmakologis khusus sebelum nyeri.<br />
Pendekatan ini tampak paling efektif pada nyeri ringan<br />
4.4. Minta orang tua membantu anak dengan menggunakan srtategi selama nyeri<br />
Latihan ini mungkin diperlukan untuk membantu anak berfokus pada tindakan yang diperlukan<br />
4.5. Berikan analgesic sesuai indikasi.</p>
<p>Dx 5 :<br />
5.1. Tentukan aktivitas atau keadaan fisik anak<br />
Memberikan informasi untuk mengembangkan rencana perawatan bagi program rehabilitasi.<br />
5.2. Catat dan terima keadaan kelemahan (kelelahan yang ada)<br />
Kelelahan yang dialami dapat mengindikasikan keadaan anak<br />
5.3. Indetifikasi factor-faktor yang mempengaruhi kemampuan untuk aktif seperti<br />
pemasukan makanan yang tidak adekuat.<br />
Memberikan kesempatan untuk memecahkan masalah untuk mempertahankan atau meningkatkan mobilitas<br />
5.4. Evaluasi kemampuan untuk melakukan mobilisasi secara aman<br />
Latihan berjalan dapat meningkatkan keamanan dan efektifan anak untuk berjalan.</p>
<p>Dx 6 :<br />
6.1 Kaji tingkat realita bahaya bagi anak dan keluarga tingkat ansietas(mis.renda,sedang,<br />
parah).<br />
Respon keluarga bervariasi tergantung pada pola kultural yang dipelajari.<br />
6.2 Nyatakan retalita dan situasi seperti apa yang dilihat keluarga tanpa menayakan apa<br />
yang dipercaya.<br />
Pasien mugkin perlu menolak realita sampai siap menghadapinya.<br />
6.3. Sediakan informasi yang akurat sesuai kebutuhan jika diminta oleh keluarga.<br />
Informasi yang menimbulkan ansietas dapat diberikan dalam jumlah yang dapat<br />
dibatasi setelah periode yang diperpanjang.<br />
6.4. Hidari harapan –harapan kosong mis ; pertanyaan seperti “ semua akan berjalan<br />
lancar”.<br />
Harapan –harapan palsu akan diintervesikan sebagai kurangnya pemahaman atau<br />
kejujuran.</p>
<p>I Tumbuh kembang anak usia 0 -5 tahun</p>
<p>Penyimpangan tumbuh kembang anak harus dideteksi sejak dini, terutama sebelum anak berumur 3 tahun, agar dapat segera di intervensi (diperbaiki, Red). Apabila deteksi terlambat, yang menyebabkan penanganan terlambat sehingga penyimpangan akan sulit untuk diperbaiki<br />
Terdapat beberapa tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan antara lain masa dalam kandungan (prenatal), masa Neonatal (0 – 28 hari), masa Bayi (&lt;&gt;6 bulan terjadi stanger anxiety (cemas)<br />
- Menangis keras<br />
- Pergerakan tubuh yang banyak<br />
- Ekspresi wajah yang tidak menyenangkan</p>
<p>2) Masa todler (2-3 tahun)<br />
Sumber utama adalah cemas akibat perpisahan. Disini respon perilaku anak dengan tahapnya.<br />
- Tahap protes menangis, menjerit, menolak perhatian orang lain<br />
- Putus asa menangis berkurang, anak tidak aktif, kurang menunjukkan minat bermain, sedih, apatis<br />
- Pengingkaran / denial<br />
- Mulai menerima perpisahan<br />
- Membina hubungan secara dangkal<br />
- Anak mulai menyukai lingkungannya</p>
<p>3) Masa prasekolah (3-6 tahun)<br />
Sering kali dipersepsikan anak sekolah sebagai hukuman, sehingga menimbulkan reaksi agresif.<br />
- Menolak makan<br />
- Sering bertanya<br />
- Menangis perlahan<br />
- Tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan</p>
<p>4) Masa sekolah (6-12 tahun)<br />
Perawatan di rumah sakit memaksakan ;<br />
- Meninggalkan lingkungan yang dicintai<br />
- Meninggalkan keluarga<br />
- Kehilangan kelompok sosial, sehingga menimbulkan kecemasan</p>
<p>5) Masa remaja (12-18 tahun)<br />
Anak remaja begitu percaya dan terpengaruh kelompok sebayanya. Reaksi yang muncul ;<br />
- Menolak perawatan / tindakan yang dilakukan<br />
- Tidak kooperatif dengan petugas<br />
- Bertanya-tanya<br />
- Menarik diri<br />
- Menolak kehadiran orang lain</p>
<p>Reaksi orang tua terhadap hospitalisasi<br />
Perasaan yang muncul dalam hospitalisasi ;<br />
- Takut<br />
- Cemas<br />
- Perasaan sedih<br />
- Frustasi<br />
Reaksi keluarga terhadap hospitalisasi<br />
- Marah<br />
- Cemburu<br />
- Benci<br />
- Rasa bersalah</p>
<p>Reaksi lingkungan sosial terhadap hospitalisasi<br />
- Acuh tak acuh<br />
- Terkesan menghindar<br />
Intevensi perawatan dalam mengatasi dampak hospitalisasi<br />
Fokus intervensi keperawatan adalah ;<br />
- Menimalkan stressor<br />
- Memaksimalkan manfaat hospitalisasi<br />
- Memberikan dukungan psikologis pada anggota keluarga<br />
- Mempersiapkan anak sebelum masuk rumah sakit</p>
<p>Upaya meminimalkan stressor atau penyebab stress<br />
Dapat dilakukan dengan cara ;<br />
- Mencegah atau mengurangi dampak perpisahan<br />
- Mencegah perasaan kehilangan kontrol<br />
- Mengurangi / menimalkan rasa takut terhadap perlukaan tubuh dan rasa nyeri</p>
<p>Upaya mencegah / meminimalkan dampak perpisahan<br />
- Melibatkan orang tua berperan aktif dalam perawatan anak<br />
- Modifikasi ruang perawatan<br />
- Mempertahankan kontak dengan kegiatan sekolah, surat menyurat, bertemu teman sekolah</p>
<p>Mencegah perasaan kehilangan kontrol<br />
- Hindarkan pembatasan fisik jika anak dapat kooperatif<br />
- Bila anak diisolasi lakukan modifikasi lingkungan<br />
- Buat jadwal untuk prosedur terapi, latihan, bermain</p>
<p>Meminimalkan rasa takut terhadap cedera tubuh dan rasa nyeri<br />
- Mempersiapkan psikologis anak dan orang tua untuk tindakan prosedur yang menimbulkan rasa nyeri<br />
- Lakukan permainan sebelum melakukan persiapan fisik anak<br />
- Menghadirkan orang tua bila mungkin<br />
- Tunjukkan sikap empati<br />
- Pada tindakan elektif bila memungkinkan menceritakan tindakan yang dilakukan melalui cerita dan gambar<br />
- Perlu dilakukan pengkajian tentang kemampuan psikologis anak menerima informasi ini dengan terbuka</p>
<p>Memaksimalkan manfaat hospitalisasi anak<br />
- Membantu perkembangan anak dengan memberi kesempatan orang tua untuk belajar<br />
- Memberi kesempatan pada orang tua untuk belajar tentang penyakit anak<br />
- Meningkatkan kemampuan kontrol diri<br />
- Memberi kesempatan untuk sosialisasi<br />
- Memberi support kepada anggota</p>
<p>Mempersiapkan anak untuk mendapat perawatan di rumah sakit<br />
- Kenalkan perawat dan dokter yang merawatnya<br />
- Kenalkan pada pasien yang lain<br />
- Berikan identitas pada anak<br />
- Jelaskan aturan rumah sakit<br />
- Laksanakan pengkajian<br />
- Lakukan pemeriksaan fisik</p>
<p>Dampak hospitalisasi<br />
Dampak hospitalisasi yang dialami bagi anak dan keluarga akan menimbulkan stress dan tidak merasa aman. Jumlah dan efek stress tergantung pada persepsi anak dan keluarga terhadap kerusakan penyakit dan pengobatan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yusniraharjo.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yusniraharjo.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yusniraharjo.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yusniraharjo.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yusniraharjo.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yusniraharjo.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yusniraharjo.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yusniraharjo.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yusniraharjo.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yusniraharjo.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yusniraharjo.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yusniraharjo.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yusniraharjo.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yusniraharjo.wordpress.com/80/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusniraharjo.wordpress.com&amp;blog=7440325&amp;post=80&amp;subd=yusniraharjo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yusniraharjo.wordpress.com/2009/06/01/asuhan-keperawatan-pada-dengan-poliomyelitis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9f3bc14133df71eef8a5cf6bf225199c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yusni raharjo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN ENCEPHALITIS</title>
		<link>http://yusniraharjo.wordpress.com/2009/06/01/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengan-encephalitis/</link>
		<comments>http://yusniraharjo.wordpress.com/2009/06/01/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengan-encephalitis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 02:21:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yusniraharjo</dc:creator>
				<category><![CDATA[SCIENCE OF NURSING]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yusniraharjo.wordpress.com/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[A. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Ensefalitis adalah infeksi yang mengenai CNS yang disebabkan oleh virus atau mikro organisme lain yang non purulent. Patogenesis Ensefalitis Virus masuk tubuh pasien melalui kulit,saluran nafas dan saluran cerna.setelah masuk ke dalam tubuh,virus akan menyebar ke seluruh tubuh dengan beberapa cara: Setempat:virus alirannya terbatas menginfeksi selaput lendir permukaan atau organ tertentu. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusniraharjo.wordpress.com&amp;blog=7440325&amp;post=78&amp;subd=yusniraharjo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A. TINJAUAN PUSTAKA<br />
Pengertian<br />
Ensefalitis adalah infeksi yang mengenai CNS yang disebabkan oleh virus atau mikro organisme lain yang non purulent.<br />
Patogenesis Ensefalitis<br />
Virus masuk tubuh pasien melalui kulit,saluran nafas dan saluran cerna.setelah masuk ke dalam tubuh,virus akan menyebar ke seluruh tubuh dengan beberapa cara:<br />
Setempat:virus alirannya terbatas menginfeksi selaput lendir permukaan atau organ tertentu.<br />
Penyebaran hematogen primer:virus masuk ke dalam darah kemudian menyebar ke organ dan berkembang biak di organ tersebut.<br />
Penyebaran melalui saraf-saraf : virus berkembang biak di Permukaan selaput lendir dan menyebar melalui sistem saraf.<br />
Masa Prodromal berlangsung 1-4 hari ditandai dengan demam, sakit kepala, pusing, muntah, nyeri tenggorokan, malaise, nyeri ekstremintas dan pucat .<br />
Gejala lain berupa gelisah, iritabel, perubahan perilaku, gangguan kesadaran, kejang.<br />
Kadang-kadang disertai tanda Neurologis tokal berupa Afasia, Hemifaresis, Hemiplegia, Ataksia, Paralisis syaraf otak.</p>
<p>Penyebab<br />
Penyebab terbanyak : adalah virus<br />
Sering :<br />
- Herpes simplex<br />
- Arbo virus<br />
Jarang :<br />
- Entero virus<br />
- Mumps<br />
- Adeno virus<br />
Post Infeksi :<br />
- Measles<br />
- Influenza<br />
- Varisella<br />
Post Vaksinasi :<br />
- Pertusis<br />
Ensefalitis supuratif akut :<br />
Bakteri penyebab Esenfalitis adalah : Staphylococcusaureus,Streptokok,E.Coli,Mycobacterium dan T. Pallidum.<br />
Ensefalitis virus:<br />
Virus yang menimbulkan adalah virus R N A (Virus Parotitis) virus morbili,virus rabies,virus rubella,virus denque,virus polio,cockscakie A,B,Herpes Zoster,varisela,Herpes simpleks,variola.</p>
<p>Tanda dan Gejala-Gejala<br />
Panas badan meningkat ,photo fobi,sakit kepala ,muntah-muntah lethargy , kadang disertai kaku kuduk apabila infeksi mengenai meningen.<br />
Anak tampak gelisah kadang disertai perubahan tingkah laku. Dapat disertai gangguan penglihatan, pendengaran ,bicara dan kejang.</p>
<p>B. PROSES KEPERAWATAN<br />
PENGKAJIAN<br />
Aktivitas Istirahat<br />
Gejala : perasaan tidak enak(malaise), keterbatasan aktivitas yang ditimbulkan oleh kondisinya<br />
Tanda : ataksia, kelumpuhan, gerakan involunter, kelemahan secara umum, keterbatasan dalam rentang gerak, hipotoni.<br />
Maturasi tulang terlambat<br />
Aktifitas dan perhatian anak berkurang dibanding anak lain<br />
Atrofi otot<br />
Kelainan kulit tubuh : kulit kering, mengendor karena kehilangan lemak di bawah kulit dan &amp; penurunan massa otot<br />
Otot : atrofi sehingga tulang terlihat jelas</p>
<p>Sirkulasi<br />
Gejala : ada riwayat kardiopatologi, contoh : endokarditis.<br />
Tanda : TD meningkat. Nadi menurun dan tekanan nadi berat(berhubungan dengan peningkatan TIK dan berpengaruh pada pusat vasomotor, tachicardi, disritmia.<br />
Kelainan biokimia darah<br />
Jantung : Bradikardi<br />
Tekanan darah : lebih rendah dibanding anak seumur<br />
System darah : Hb rendah, Anemia ringan</p>
<p>Eliminasi<br />
Tanda : adanya inkontinensia atau retensi</p>
<p>Makanan/cairan<br />
Gejala : anoreksia,. Kesulitan menelan<br />
Tanda : muntah, turgor kulit jelek, membran mukosa kering<br />
Pertumbuhan linier berkurang / terhenti<br />
Kenaikan BB berkurang, terhenti dan adakalanya BB menurun<br />
Ukuran LLA menurun<br />
Tebal lipatan kulit normal / menurun<br />
Kelainan kulit / rambut jarang ditemukan<br />
Gangguan pertumbuhan<br />
BB &lt; 80 %, terdapat edema, TB berkurang terutama KKP yang lama<br />
Edema : edema ringan / berat ditemukan sebagian besar klien asites dapat mengiringi edema<br />
Sistem GI : klien menolak segala macam makanan, diare, feces cair, banyak mengandung asam laktat karena berkurangnya produksi laktosa dan enzim disakarida, kadang ditemukan cacing &amp; parasit<br />
Perubahan rambut<br />
Rambut mudah tercabut, kusam dan kering, halus jarang &amp; warnanya berubah. Warna rambut hitam berubah merah, kelabu atau putih.<br />
Perubahan kulit<br />
Terjadi crazy parament dermatosis : kering bersisik<br />
Pembesaran hati sampai perlemakan hati<br />
Albumin serum rendah, Globulin Serum kadang í, kolestrol serum í<br />
Lemak di bawah kulit : hilang hingga turgor berkurang<br />
Saluran cerna:  diare / konstipasi</p>
<p>Hiegyene;<br />
Tanda : ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri</p>
<p>Neurosensosoris<br />
Gejala : sakit kepala(merupakan gejala pertama dan biasanya berat), parestesia, kaku pada semua persarafan yanbg kena, kehilangan sensasi(kerisakan pada saraf krania;)timbul kejang. Gangguan dalam penglihatan seperti diplopia, diplopia, ketulian, atau mungkin hipersensitif terhadap kebisibngan, adanya halusinasi penciuman.<br />
Tanda : status mental letargi sampai kebingungan yang berat bahkan koma, delusi dan halusinasi/psikosis organic.<br />
Kehilangan memori, sulit dalam mengambil keputusan, afasia atau kesulitan dalam berkomunikasi, mata(ukuran/reaksi pupil), anisokor atau tidak berespon terhadap cahaya(tanda peningkatan TIK), nistagmus(bola mata bergerak terus-menerus.<br />
Ptosis kelopak mata atas jatuh. Perubahan pada fungsi motoris dan sensoris(saraf cranial V dan VII yang terkena).<br />
Kejang umum atau local flaxid paralysis atau spastic.<br />
Hemiparese atau hemiplegi, tanda brudzinski positif dan tanda kernig positif merupakan indikasi adanya iritasi meningen.<br />
Rigiditas, refleks tendo terganggu, babinski positif, refleks abdominal menurun, refleks kremaster pada laki-laki hilang.<br />
Pertumbuhan mental : banyak menangis bahkan sangat apatis<br />
Perubahan mental : anak menangis setelah makan, kesadaran í sampai apatis</p>
<p>Nyeri/kenyamanan<br />
Gejala : sakit kepala(berdenyut dengan hebat terutama pada frontal, ketegangan pada leher, nyeri pada gerakan okuler, fotosensitifitas, nyeri pada tenggorokan.<br />
Tanda : prilaku distraksi/gelisah</p>
<p>Pernafasan<br />
Gejala : adanya riwayat infeksi sinus atau paru<br />
Tanda : peningkatan kerja pernafasan, perubahan mental<br />
Saluran nafas : frekuensi nafas menurun</p>
<p>Keamanan<br />
Gejala : adanya riwayat infeksi saluran pernafasan atas/infeksi lain meliputi : mastoiditis, abses gigi, infeksi pelvis, abdomen atau kulit<br />
Tanda : suhu meningkat, diafhoresis, menggigil, kelemahan secara umum, tonus otot flaxid atau plastic, paralysis, gangguan sensasi</p>
<p>Integitas ego<br />
Tanda : Penampilan : muka terlihat tua, anak sangat kurus<br />
Rambut kepala : kering tipis dan mudah rontok</p>
<p>DIAGNOSA KEPERAWATAN<br />
Risiko (penyebaran)infeksi b/d diseminata hematogen dari pathogen. Stasis cairan tubuh. Penekanan respon inflamasi(akibat obat). Pemajanan orang lain terhadap pathogen.<br />
Risiko perubahan perfusi serebral b/d edema serebral yang mengubah/menghentikan aliran darah arteri/vena. Hipovolemia. Masalah pertukaran pada tingkat seluler(asidosis)<br />
Risiko trauma b/d iritasi korteks serebral mempredisposisikan muatan neural dan aktivitas kejang umum. Keterlibatan area local(kejang fokal). Kelemahan umum, paralysis, parestesia. Ataksia, vertigo.<br />
Nyeri b/d adanya proses infeksi/inflamasi, toksin dalam sirkulasi.<br />
Hambatan mobilitas fisik b/d kerusakan neuromuskuler, penurunan kekuatan/ketahanan.<br />
Ansietas/ketakutan b/d krisis situasi, transmisi interpersonal dan keikutsertaan merasakan. Ancaman kematian/ perubahan dalam status kesehatan(keterlibatan otak)<br />
Perubahan nutrisi :<br />
· Kekurangan volume cairan<br />
· Risiko perubahan integritas kulit</p>
<p>RENCANA INTERVENSI<br />
Risiko perubahan perfusi serebral b/d edema serebral yang mengubah/menghentikan aliran darah arteri/vena. Hipovolemia. Masalah pertukaran pada tingkat seluler(asidosis)<br />
§ Tujuan : mempertahankan tingkat kesadaran biasanya/membaik dan fungsi sensorik/motorik. Mendemonstrasikan TTV stabil. Melaporkan tak adanya/menurunkan sakit kepala.</p>
<p>RENCANA INTERVENSI:<br />
Pertahankan tirah baring dengan posisi kepala datar dan pantau tanda vital sesuai indikasi setelah dilakukan pungsi lumbal<br />
Pantau/catat status neurologis dengan teratur dan bandingkan dengan keadaan normalnya, seperti GCS.<br />
Pantau tanda vital, seperti tekanan darah. Catat serangan dari/hipertensi sistolik yang terus-menerus dan tekanan nadi yang melebar<br />
Anjurkan keluarga untuk berbicara dengan pasien jika diperlukan<br />
Berikan obat sesuai indikasi, seperti : steroid : deksametason, metilprednison(medrol)</p>
<p>RASIONAL:<br />
Perubahan tekanan CSS mungkin merupakan potensi adanya resiko herniasi batang otak yang memerlukan tindakan medis dengan segera.<br />
Pengkajian kecenderungan adanya perubahan tingkat kesadaran dan potensial peningkatan TIK adalah sangat berguna dalam menentukan lokasi, penyebaran/luasnya dan perkembangan dari kerusakan serebral<br />
Normalnya, autoregulasi mampu mempertahankan aliran darah serebral dengan konstan sebagai dampak adanya fluktuasi pada tekanan darah sistemik. Kehilangan fungsi autoregulasi mungkin mengikuti kerusakan vaskuler serebral local atau difus yang menimbulkan peningkatan TIK. Fenomena ini dapat ditunjukkan oleh peningkatan TD sistemik yang bersamaan dengan tekanan darah diastolic(tekanan darah yang melebar)<br />
Mendengarkan suara yang menyenangkan dari orang terdekat/keluarga tampaknya menimbulkan pengaruh trelaksasi pada beberapa pasien dan mungkin akan dapat menurunkan TIK.<br />
Dapat menurunkan permeabilitas kapiler untuk membatasi pembentukan edema serebral, dapat juga menurunkan risiko terjadinya”fenomena rebound” ketika menggunakan manitol.</p>
<p>Hambatan mobilitas fisik b/d kerusakan neuromuskuler, penurunan kekuatan/ketahanan.<br />
§ Dapat ditandai dengan : enggan mengusahakan gerakan. Kerusakan koordinasi dan penurunan kekuatan/control otot. ROM terbatas. Ketidakmamupuan untuk gerakan bertujuan dalam lingkungan fisik.<br />
§ Tujuan : mencapai kembali atau mempertahankan posisi fungsional optimal yang ditunjukkan oleh tidak terdapatnya kontraktur, footdrop. Mempertahankan/meningkatkan kekuatan dan fungsi umum. Mempertahankan integritas kulit, fungsi kandung kemih dan usus.<br />
RENCANA INTERVENSI:<br />
Kaji derajat imobilisasi pasien dengan menggunakan skala ketergantungan (0-4)<br />
Letakkan pasien pada posisi tertentu untuk menghindari kerusakan karena tekanan. Ubah posisi pasien secara teratur dan buat sedikit perubahan posisi antara waktu perubahan posisi tersebut.<br />
Berikan/Bantu untuk melakukan rentang gerak<br />
Berikan matras udara/air, terapi kinetic sesuai dengan kebutuhan.<br />
RASIONAL:<br />
Pasien mampu mandiri(nilai 0), atau memerlukan bantuan peralatan yang minimal(nilai 1); memerlukan bantuan sedang/dengan pengawasan/diajarkan(nilai 2); memerlukan bantuan/peralatan yang terus-menerus dan alat khusus(nilai 3); tergantung secara total pada pemberi asuhan(nilai 4).<br />
Perubahan posisi yang teratur menyebabkan penyebaran terhadap berat badan dan meningkatkan sirkulasi pada seluruh bagian tubuh. Jika ada paralysis atau keterbatasan kognitif, pasien harus diubah posisinya secara teratur dan posisi dari daerah yang sakit hanya dalam jangka waktu yang sangat terbatas.<br />
Mempertahankan mobilisasi dan fungsi sendi/posisi normal ekstremitas dan menurunkan terjadinya vena yang statis.<br />
Menyeinbangkan tekanan jaringan, meningkatkan sirkulasi, dan membantu meningkatkan arus balik vena untuk menurunkan risiko terjadinya trauma jaringan.</p>
<p>Ansietas/ketakutan b/d krisis situasi, transmisi interpersonal dan keikutsertaan merasakan.<br />
§ Dapat ditandai dengan : peningkatan tegangan/keputusasaan. Ketakutan/ketidakpastian hasil, berfokus pada diri sendiri. Stimulasi simpatis. Gelisah.<br />
§ Tujuan : mengakui dan mendiskusikan rasa takut. Mengungkapkan keakuratan pengetahuan tentang situasi. Tampak rileks dan melaporkan ansietas berkurang sampai pada tingkat dapat diatasi.</p>
<p>RENCANA INTERVENSI:<br />
Kaji status mental dan tingkat ansietas dari pasien/keluarga. Catat adanya tanda-tanda verbal atau non verbal.<br />
Berikan penjelasan hubungan antara proses penyakit dan gejalanya.<br />
Jawab setiap pertanyaan dengan penuh perhatian dan berikan informasi tentang prognosa penyakit<br />
Jelaskan dan persiapkan untuk tindakan prosedur sebelum dilakukan<br />
Berikan kesempatan pasien/keluarga untuk mengumgkapkan isi pikiran dan perasaan takutnya.<br />
Libatkan pasien/keluarga dalam perawatan.<br />
Berikan petunjuk mengenai sumber-sumbner penyokong yang ada, seperti keluarga, konselor professional dan sebagainya<br />
RASIONAL:<br />
Gangguan tingkat kesadaran dapat mempengaruhi ekspresi rasa takut tetapi tidak menyangkal keberadaannya. Derajat ansietas akan dipengaruhi bagaimana informasi tersebut diterima oleh individu.<br />
Meningkatkan pemahaman, mengurangi resa takut karena ketidaktahuan dan dapat membantu menurunkan ansietas.<br />
Penting untuk menciptakan kepercayaan karena diagnosa enfeksi otak mungkin menakutkan, ketulusan dan informasi yang akurat dapat memberikan keyakinan pada pasien dan juga keluarga.<br />
Dapat meringankan ansietas terutama ketika pemeriksaan tersebut melibatkan otak.<br />
Mengungkap ,rasa takut secara terbuka di mana rasa takut dapat ditunjukkan.<br />
Meningkatkan perasaan control terhadap diri dan meningkatkan kemandirian.<br />
Memberikan jaminan bahwa bantuan yang diperlukan adalah penting untuk peningkatan/menyokong mekanisme koping pasien.</p>
<p>Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan b/d tidak adekuatnya intake<br />
· Tujuan : klien akan menunjukkan pemenuhan nutrisi adekuat dengan criteria : BB dalam batas normal, nafsu makan baik/meningkat, tidak ditemukan defisiensi nutrisi<br />
RENCANA INTERVENSI:<br />
Kaji riwayat nutrisi, makanan yang disukai<br />
Kaji antropometri setiap hari<br />
Berikan intake makanan TKTP, mineral atau vitamin<br />
Tingkatkan frekuensi makan. Berikan diet halus, rendah serat. Hindari makan pedas/terlalu asam<br />
Berikan anti jamur/pencuci mulut, anestetik jika diperlukan<br />
Berikan suplemen nutrisi, misalnya ensure bila diindikasikan<br />
RASIONAL:<br />
Mengidentifikasi defisiensi serta pemberian intervensi<br />
Perubahan antropometri mengindikasikan perubahan status nutrisi<br />
Diet TKTP mineral dan vitamin dapat memenuhi kebutuhan gizi bagi klien<br />
Bila ada lesi oral, nyeri dapat membatasi tipe makanan yang dapat ditoleransi klien<br />
Stomatitis biasanya ada pada PEM, untuk meningkatkan penyembuhan jaringan mulut dan memudahkan masukan diet<br />
Meningkatkan masukan protein dan kalori</p>
<p>Kekurangan volume cairan b/d intake cairan kurang<br />
· Tujuan : klien akan menunjukkan volume cairan terpenuhi, dengan criteria : tidak ada tanda-tanda dehidrasi, turgor kulit normal, membrane mukosa lembab, mata tidak cekung, frekuensi nadi dan pernafasan dalam batas normal.<br />
RENCANA INTERVENSI:<br />
Kaji tanda-tanda dehidrasi<br />
Berikan cairan adekuat sesuai kondisi (per oral)<br />
Berikan cairan/nutrisi perenteral, pantau kepatenan infuse<br />
Hitung intake dan out put<br />
Monitor TTV<br />
Pantau adanya over load cairan<br />
RASIONAL:<br />
Mengidentifikasi adanya/derajat dehidrasi<br />
Memenuhi kebutuhan cairan tubuh tanpa kontraindikasi<br />
Intake cairan parenteral dapat memenuhi kebutuhan secara sistemik<br />
Mengetahui balance cairan tubuh<br />
Pada dehidrasi dapat terjadi perubahan TTV<br />
Pemberian cairan yang berlebihan dapat menimbulkan overload</p>
<p>Nyeri berhubungan dengan adanya proses infeksi/inflamasi<br />
Dapat ditandai dengan : klein melaporkan sakipt kepala, nyeri otot, prilaku distraksi, perilaku berlindung, tegangan muskuler, perubahan TTV.<br />
Tujuan: Melaporkan nyeri hilang/terkontrol ditandai dengan :<br />
menunjukkan postur rileks dan mampu istirahat/tidur dengan tepat<br />
RENCANA INTERVENSI:<br />
Berikan lingkungan yang tenang, ruangan agak gelap sesuai dengan indikasi<br />
Letakkan kantung es pada kepala, pakaian dingin diatas mata<br />
Tingkat tirah baring, bantulah kebutuhan perawatan diri yang penting<br />
Dukung untuk menemukan posisi yang nyaman sperti kepala agak tinggi sedikit pada meningitis<br />
Berikan latihan rentang gerak aktif/pasif secara tepat dan masase otot daerah leher dan bahu.<br />
Berikan analgetik seperti asetaminofen, kodein<br />
RASIONAL:<br />
Menurunkan reaksi terhadap stimulasi dari luar atau sensitifitas pada cahaya dan meningkatkan istirahat/rileksasi<br />
Meningkat kan vasokonstriksi, menumpulkan resepsi sensorik yang selanjutnya akan menurunkan nyeri<br />
Menurunkan gerakan yang dapat meningkatkan nyeri<br />
.Menurunkan iritasi meningeal, resultan ketidaknyamanan lebih lanjut<br />
Dapat membatu merelaksasikan ketegangan otot yang meningkatkan reduksi nyeri atau rasa tidak nyaman tersebut.<br />
Mungkin diperlukan untuk menghilangkan nyeri yang berat, catatan : narkotik mungkin merupakan kotra indikasi sehingga menimbulkan ketidakakuratan dalam pemeriksaaan neurologis</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yusniraharjo.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yusniraharjo.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yusniraharjo.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yusniraharjo.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yusniraharjo.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yusniraharjo.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yusniraharjo.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yusniraharjo.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yusniraharjo.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yusniraharjo.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yusniraharjo.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yusniraharjo.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yusniraharjo.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yusniraharjo.wordpress.com/78/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusniraharjo.wordpress.com&amp;blog=7440325&amp;post=78&amp;subd=yusniraharjo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yusniraharjo.wordpress.com/2009/06/01/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengan-encephalitis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9f3bc14133df71eef8a5cf6bf225199c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yusni raharjo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN HIDROSEFALUS</title>
		<link>http://yusniraharjo.wordpress.com/2009/06/01/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengan-hidrosefalus/</link>
		<comments>http://yusniraharjo.wordpress.com/2009/06/01/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengan-hidrosefalus/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 02:12:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yusniraharjo</dc:creator>
				<category><![CDATA[SCIENCE OF NURSING]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yusniraharjo.wordpress.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[Definisi Hidrosefalus adalah kelainan patologis otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan serebrospinal dengan atau pernah dengan tekanan intrakranial yang meninggi, sehingga terdapat pelebaran ventrikel (Darsono, 2005:209). Pelebaran ventrikuler ini akibat ketidakseimbangan antara produksi dan absorbsi cairan serebrospinal. Hidrosefalus selalu bersifat sekunder, sebagai akibat penyakit atau kerusakan otak. Adanya kelainan-kelainan tersebut menyebabkan kepala menjadi besar serta terjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusniraharjo.wordpress.com&amp;blog=7440325&amp;post=75&amp;subd=yusniraharjo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Definisi<br />
Hidrosefalus adalah kelainan patologis otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan serebrospinal dengan atau pernah dengan tekanan intrakranial yang meninggi, sehingga terdapat pelebaran ventrikel (Darsono, 2005:209). Pelebaran ventrikuler ini akibat ketidakseimbangan antara produksi dan absorbsi cairan serebrospinal. Hidrosefalus selalu bersifat sekunder, sebagai akibat penyakit atau kerusakan otak. Adanya kelainan-kelainan tersebut menyebabkan kepala menjadi besar serta terjadi pelebaran sutura-sutura dan ubun-ubun (DeVito EE et al, 2007:328).</p>
<p>Epidemiologi<br />
Insidensi hidrosefalus antara 0,2-4 setiap 1000 kelahiran. Insidensi hidrosefalus kongenital adalah 0,5-1,8 pada tiap 1000 kelahiran dan 11%-43% disebabkan oleh stenosis aqueductus serebri. Tidak ada perbedaan bermakna insidensi untuk kedua jenis kelamin, juga dalam hal perbedaan ras. Hidrosefalus dapat terjadi pada semua umur. Pada remaja dan dewasa lebih sering disebabkan oleh toksoplasmosis. Hidrosefalus infantil; 46% adalah akibat abnormalitas perkembangan otak, 50% karena perdarahan subaraknoid dan meningitis, dan kurang dari 4% akibat tumor fossa posterior (Darsono, 2005:211).</p>
<p>Etiologi<br />
Hidrosefalus terjadi bila terdapat penyumbatan aliran cairan serebrospinal (CSS) pada salah satu tempat antara tempat pembentukan CSS dalam sistem ventrikel dan tempat absorbsi dalam ruang subaraknoid. Akibat penyumbatan, terjadi dilatasi ruangan CSS diatasnya (Allan H. Ropper, 2005). Teoritis pembentukan CSS yang terlalu banyak dengan kecepatan absorbsi yang abnormal akan menyebabkan terjadinya hidrosefalus, namun dalam klinik sangat jarang terjadi. Penyebab penyumbatan aliran CSS yang sering terdapat pada bayi dan anak ialah :<br />
1) Kelainan Bawaan (Kongenital)<br />
a. Stenosis akuaduktus Sylvii<br />
b. Spina bifida dan kranium bifida<br />
c. Sindrom Dandy-Walker<br />
d. Kista araknoid dan anomali pembuluh darah<br />
2) Infeksi<br />
Akibat infeksi dapat timbul perlekatan meningen. Secara patologis terlihat penebalan jaringan piamater dan araknoid sekitar sisterna basalis dan daerah lain. Penyebab lain infeksi adalah toxoplasmosis.<br />
3) Neoplasma<br />
Hidrosefalus oleh obstruksi mekanik yang dapat terjadi di setiap tempat aliran CSS. Pada anak yang terbanyak menyebabkan penyumbatan ventrikel IV atau akuaduktus Sylvii bagian terakhir biasanya suatu glioma yang berasal dari serebelum, penyumbatan bagian depan ventrikel III disebabkan kraniofaringioma.<br />
4) Perdarahan<br />
Perdarahan sebelum dan sesudah lahir dalam otak, dapat menyebabkan fibrosis leptomeningen terutama pada daerah basal otak, selain penyumbatan yang terjadi akibat organisasi dari darah itu sendiri (Allan H. Ropper, 2005:360).</p>
<p>Patofisiologi dan Patogenesis<br />
CSS yang dibentuk dalam sistem ventrikel oleh pleksus khoroidalis kembali ke dalam peredaran darah melalui kapiler dalam piamater dan arakhnoid yang meliputi seluruh susunan saraf pusat (SSP). Cairan likuor serebrospinalis terdapat dalam suatu sistem, yakni sistem internal dan sistem eksternal. Pada orang dewasa normal jumlah CSS 90-150 ml, anak umur 8-10 tahun 100-140 ml, bayi 40-60 ml, neonatus 20-30 ml dan prematur kecil 10-20 ml. Cairan yang tertimbun dalam ventrikel 500-1500 ml (Darsono, 2005). Aliran CSS normal ialah dari ventrikel lateralis melalui foramen monroe ke ventrikel III, dari tempat ini melalui saluran yang sempit akuaduktus Sylvii ke ventrikel IV dan melalui foramen Luschka dan Magendie ke dalam ruang subarakhnoid melalui sisterna magna. Penutupan sisterna basalis menyebabkan gangguan kecepatan resorbsi CSS oleh sistem kapiler. (DeVito EE et al, 2007:328)<br />
Hidrosefalus secara teoritis terjadi sebagai akibat dari tiga mekanisme yaitu :<br />
1. Produksi likuor yang berlebihan<br />
2. Peningkatan resistensi aliran likuor<br />
3. Peningkatan tekanan sinus venosa<br />
Konsekuensi tiga mekanisme di atas adalah peningkatan tekanan intrakranial sebagai upaya mempertahankan keseimbangan sekresi dan absorbsi. Mekanisme terjadinya dilatasi ventrikel cukup rumit dan berlangsung berbeda-beda tiap saat selama perkembangan hidrosefalus. Dilatasi ini terjadi sebagai akibat dari :<br />
1. Kompresi sistem serebrovaskuler.<br />
2. Redistribusi dari likuor serebrospinalis atau cairan ekstraseluler<br />
3. Perubahan mekanis dari otak.<br />
4. Efek tekanan denyut likuor serebrospinalis<br />
5. Hilangnya jaringan otak.<br />
6. Pembesaran volume tengkorak karena regangan abnormal sutura kranial.<br />
Produksi likuor yang berlebihan disebabkan tumor pleksus khoroid. Gangguan aliran likuor merupakan awal dari kebanyakan kasus hidrosefalus. Peningkatan resistensi yang disebabkan gangguan aliran akan meningkatkan tekanan likuor secara proporsional dalam upaya mempertahankan resorbsi yang seimbang.<br />
Peningkatan tekanan sinus vena mempunyai dua konsekuensi, yaitu peningkatan tekanan vena kortikal sehingga menyebabkan volume vaskuler intrakranial bertambah dan peningkatan tekanan intrakranial sampai batas yang dibutuhkan untuk mempertahankan aliran likuor terhadap tekanan sinus vena yang relatif tinggi. Konsekuensi klinis dari hipertensi vena ini tergantung dari komplians tengkorak. (Darsono, 2005:212)</p>
<p>Klasifikasi<br />
Klasifikasi hidrosefalus bergantung pada faktor yang berkaitan dengannya, berdasarkan :<br />
1. Gambaran klinis, dikenal hidrosefalus manifes (overt hydrocephalus) dan hidrosefalus tersembunyi (occult hydrocephalus).<br />
2. Waktu pembentukan, dikenal hidrosefalus kongenital dan hidrosefalus akuisita.<br />
3. Proses terbentuknya, dikenal hidrosefalus akut dan hidrosefalus kronik.<br />
4. Sirkulasi CSS, dikenal hidrosefalus komunikans dan hidrosefalus non komunikans.<br />
Hidrosefalus interna menunjukkan adanya dilatasi ventrikel, hidrosefalus eksternal menunjukkan adanya pelebaran rongga subarakhnoid di atas permukaan korteks. Hidrosefalus obstruktif menjabarkan kasus yang mengalami obstruksi pada aliran likuor. Berdasarkan gejala, dibagi menjadi hidrosefalus simptomatik dan asimptomatik. Hidrosefalus arrested menunjukan keadaan dimana faktor-faktor yang menyebabkan dilatasi ventrikel pada saat tersebut sudah tidak aktif lagi. Hidrosefalus ex-vacuo adalah sebutan bagi kasus ventrikulomegali yang diakibatkan atrofi otak primer, yang biasanya terdapat pada orang tua. (Darsono, 2005)</p>
<p>Manifestasi Klinis<br />
Tanda awal dan gejala hidrosefalus tergantung pada awitan dan derajat ketidakseimbangan kapasitas produksi dan resorbsi CSS (Darsono, 2005). Gejala-gejala yang menonjol merupakan refleksi adanya hipertensi intrakranial. Manifestasi klinis dari hidrosefalus pada anak dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu :<br />
1. Awitan hidrosefalus terjadi pada masa neonatus<br />
Meliputi pembesaran kepala abnormal, gambaran tetap hidrosefalus kongenital dan pada masa bayi. Lingkaran kepala neonatus biasanya adalah 35-40 cm, dan pertumbuhan ukuran lingkar kepala terbesar adalah selama tahun pertama kehidupan. Kranium terdistensi dalam semua arah, tetapi terutama pada daerah frontal. Tampak dorsum nasi lebih besar dari biasa. Fontanella terbuka dan tegang, sutura masih terbuka bebas. Tulang-tulang kepala menjadi sangat tipis. Vena-vena di sisi samping kepala tampak melebar dan berkelok. (Peter Paul Rickham, 2003)<br />
2. Awitan hidrosefalus terjadi pada akhir masa kanak-kanak<br />
Pembesaran kepala tidak bermakna, tetapi nyeri kepala sebagai manifestasi hipertensi intrakranial. Lokasi nyeri kepala tidak khas. Dapat disertai keluhan penglihatan ganda (diplopia) dan jarang diikuti penurunan visus. Secara umum gejala yang paling umum terjadi pada pasien-pasien hidrosefalus di bawah usia dua tahun adalah pembesaran abnormal yang progresif dari ukuran kepala. Makrokrania mengesankan sebagai salah satu tanda bila ukuran lingkar kepala lebih besar dari dua deviasi standar di atas ukuran normal. Makrokrania biasanya disertai empat gejala hipertensi intrakranial lainnya yaitu:<br />
a. Fontanel anterior yang sangat tegang.<br />
b. Sutura kranium tampak atau teraba melebar.<br />
c. Kulit kepala licin mengkilap dan tampak vena-vena superfisial menonjol.<br />
d. Fenomena ‘matahari tenggelam’ (sunset phenomenon).<br />
Gejala hipertensi intrakranial lebih menonjol pada anak yang lebih besar dibandingkan dengan bayi. Gejalanya mencakup: nyeri kepala, muntah, gangguan kesadaran, gangguan okulomotor, dan pada kasus yang telah lanjut ada gejala gangguan batang otak akibat herniasi tonsiler (bradikardia, aritmia respirasi). (Darsono, 2005:213)</p>
<p>Diagnosis<br />
Disamping dari pemeriksaan fisik, gambaran klinik yang samar-samar maupun yang khas, kepastian diagnosis hidrosefalus dapat ditegakkan dengan menggunakan alat-alat radiologik yang canggih. Pada neonatus, USG cukup bermanfaat untuk anak yang lebih besar, umumnya diperlukan CT scanning. CT scan dan MRI dapat memastikan diagnosis hidrosefalus dalam waktu yang relatif singkat. CT scan merupakan cara yang aman dan dapat diandalkan untuk membedakan hidrosefalus dari penyakit lain yang juga menyebabkan pembesaran kepala abnormal, serta untuk identifikasi tempat obstruksi aliran CSS. (Darsono, 2005:214)</p>
<p>Diagnosis Banding<br />
Pembesaran kepala dapat terjadi pada hidrosefalus, makrosefali, tumor otak, abses otak, granuloma intrakranial, dan hematoma subdural perinatal, hidranensefali. Hal-hal tersebut dijumpai terutama pada bayi dan anak-anak berumur kurang dari 6 tahun. (Darsono, 2005:215)</p>
<p>Terapi<br />
Pada dasarnya ada tiga prinsip dalam pengobatan hidrosefalus, yaitu :<br />
a) Mengurangi produksi CSS.<br />
b) Mempengaruhi hubungan antara tempat produksi CSS dengan tempat absorbsi.<br />
c) Pengeluaran likuor (CSS) kedalam organ ekstrakranial. (Darsono, 2005)<br />
Penanganan hidrosefalus juga dapat dibagi menjadi :<br />
1. Penanganan Sementara<br />
Terapi konservatif medikamentosa ditujukan untuk membatasi evolusi hidrosefalus melalui upaya mengurangi sekresi cairan dari pleksus khoroid atau upaya meningkatkan resorbsinya.<br />
2. Penanganan Alternatif (Selain Shunting)<br />
Misalnya : pengontrolan kasus yang mengalami intoksikasi vitamin A, reseksi radikal lesi massa yang mengganggu aliran likuor atau perbaikan suatu malformasi. Saat ini cara terbaik untuk melakukan perforasi dasar ventrikel III adalah dengan teknik bedah endoskopik. (Peter Paul Rickham, 2003)<br />
3. Operasi Pemasangan ‘Pintas’ (Shunting)<br />
Operasi pintas bertujuan membuat saluran baru antara aliran likuor dengan kavitas drainase. Pada anak-anak lokasi drainase yang terpilih adalah rongga peritoneum. Biasanya cairan serebrospinalis didrainase dari ventrikel, namun kadang pada hidrosefalus komunikans ada yang didrain ke rongga subarakhnoid lumbar. Ada dua hal yang perlu diperhatikan pada periode pasca operasi, yaitu: pemeliharaan luka kulit terhadap kontaminasi infeksi dan pemantauan kelancaran dan fungsi alat shunt yang dipasang. Infeksi pada shunt meningatkan resiko akan kerusakan intelektual, lokulasi ventrikel dan bahkan kematian. (Allan H. Ropper, 2005:360)</p>
<p>Prognosis<br />
Hidrosefalus yang tidak diterapi akan menimbulkan gejala sisa, gangguan neurologis serta kecerdasan. Dari kelompok yang tidak diterapi, 50-70% akan meninggal karena penyakitnya sendiri atau akibat infeksi berulang, atau oleh karena aspirasi pneumonia. Namun bila prosesnya berhenti (arrested hidrosefalus) sekitar 40% anak akan mencapai kecerdasan yang normal (Allan H. Ropper, 2005). Pada kelompok yang dioperasi, angka kematian adalah 7%. Setelah operasi sekitar 51% kasus mencapai fungsi normal dan sekitar 16% mengalami retardasi mental ringan. Adalah penting sekali anak hidrosefalus mendapat tindak lanjut jangka panjang dengan kelompok multidisipliner. (Darsono, 2005)</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA<br />
• http://www.ninds.nih.gov/disorders/hydrocephalus/hydrocephalus.htm<br />
• DeVito EE, Salmond CH, Owler BK, Sahakian BJ, Pickard JD. 2007. Caudate structural abnormalities in idiopathic normal pressure hydrocephalus. Acta Neurol Scand 2007: 116: pages 328–332.<br />
• Peter Paul Rickham. 2003. Obituaries. BMJ 2003: 327: 1408-doi: 10.1136/ bmj.327.7428.1408.<br />
• Ropper, Allan H. And Robert H. Brown. 2005. Adams And Victor’s Principles Of Neurology: Eight Edition. USA.<br />
• Darsono dan Himpunan dokter spesialis saraf indonesia dengan UGM. 2005. Buku Ajar Neurologi Klinis. Yogyakarta: UGM Press.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yusniraharjo.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yusniraharjo.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yusniraharjo.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yusniraharjo.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yusniraharjo.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yusniraharjo.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yusniraharjo.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yusniraharjo.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yusniraharjo.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yusniraharjo.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yusniraharjo.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yusniraharjo.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yusniraharjo.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yusniraharjo.wordpress.com/75/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusniraharjo.wordpress.com&amp;blog=7440325&amp;post=75&amp;subd=yusniraharjo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yusniraharjo.wordpress.com/2009/06/01/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengan-hidrosefalus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9f3bc14133df71eef8a5cf6bf225199c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yusni raharjo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN HIRSCHPRUNG</title>
		<link>http://yusniraharjo.wordpress.com/2009/06/01/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengan-hirschprung/</link>
		<comments>http://yusniraharjo.wordpress.com/2009/06/01/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengan-hirschprung/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 02:02:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yusniraharjo</dc:creator>
				<category><![CDATA[SCIENCE OF NURSING]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yusniraharjo.wordpress.com/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[I.Pengertian Penyakit Hirschprung adalah kelainan bawaan penyebab gangguan pasase usus (Ariff Mansjoer, dkk. 2000). Dikenalkan pertama kali oleh Hirschprung tahun 1886. Zuelser dan Wilson , 1948 mengemukakan bahwa pada dinding usus yang menyempit tidak ditemukan ganglion parasimpatis. II.Etiologi Penyakit ini disebabkan aganglionosis Meissner dan Aurbach dalam lapisan dinding usus, mulai dari spingter ani internus ke [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusniraharjo.wordpress.com&amp;blog=7440325&amp;post=72&amp;subd=yusniraharjo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>I.Pengertian<br />
Penyakit Hirschprung adalah kelainan bawaan penyebab gangguan pasase usus (Ariff Mansjoer, dkk. 2000). Dikenalkan pertama kali oleh Hirschprung tahun 1886. Zuelser dan Wilson , 1948 mengemukakan bahwa pada dinding usus yang menyempit tidak ditemukan ganglion parasimpatis.</p>
<p>II.Etiologi<br />
Penyakit ini disebabkan aganglionosis Meissner dan Aurbach dalam lapisan dinding usus, mulai dari spingter ani internus ke arah proksimal, 70 % terbatas di daerah rektosigmoid, 10 % sampai seluruh kolon dan sekitarnya 5 % dapat mengenai seluruh usus sampai pilorus.</p>
<p>III.Komplikasi.<br />
Enterokolitis nekrotikans, pneumatosis usus, abses perikolon, perforasi dan septikemia.</p>
<p>IV.Penatalaksanaan.<br />
1.Konservatif. Pada neonatus dilakukan pemasangan sonde lambung serta pipa rektal untuk mengeluarkan mekonium dan udara.<br />
2.Tindakan bedah sementara. Kolostomi pada neonatus, terlambat diagnosis, eneterokolitis berat dan keadaan umum buruk.<br />
3.Tindakan bedah defenitif. Mereseksi bagian usus yang aganglionosis dan membuat anastomosis.</p>
<p>V.Asuhan Keperawatan.<br />
A.Pengkajian.<br />
1.Identitas.<br />
Penyakit ini sebagian besar ditemukan pada bayi cukup bulan dan merupakan kelainan tunggal. Jarang pada bayi prematur atau bersamaan dengan kelainan bawaan lain. Pada segmen aganglionosis dari anus sampai sigmoid lebih sering ditemukan pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Sedangkan kelainan yang melebihi sigmoid bahkan seluruh kolon atau usus halus ditemukan sama banyak pada anak laki-laki dan perempuan (Ngastiyah, 1997).<br />
2.Riwayat Keperawatan.<br />
a.Keluhan utama.<br />
Obstipasi merupakan tanda utama dan pada bayi baru lahir. Trias yang sering ditemukan adalah mekonium yang lambat keluar (lebih dari 24 jam setelah lahir), perut kembung dan muntah berwarna hijau. Gejala lain adalah muntah dan diare.<br />
b.Riwayat penyakit sekarang.<br />
Merupakan kelainan bawaan yaitu obstruksi usus fungsional. Obstruksi total saat lahir dengan muntah, distensi abdomen dan ketiadaan evakuasi mekonium. Bayi sering mengalami konstipasi, muntah dan dehidrasi. Gejala ringan berupa konstipasi selama beberapa minggu atau bulan yang diikuti dengan obstruksi usus akut. Namun ada juga yang konstipasi ringan, enterokolitis dengan diare, distensi abdomen, dan demam. Diare berbau busuk dapat terjadi.<br />
c.Riwayat penyakit dahulu.<br />
Tidak ada penyakit terdahulu yang mempengaruhi terjadinya penyakit Hirschsprung.<br />
d.Riwayat kesehatan keluarga.<br />
Tidak ada keluarga yang menderita penyakit ini diturunkan kepada anaknya.<br />
e.Riwayat kesehatan lingkungan.<br />
Tidak ada hubungan dengan kesehatan lingkungan.<br />
f.Imunisasi.<br />
Tidak ada imunisasi untuk bayi atau anak dengan penyakit Hirschsprung.<br />
g.Riwayat pertumbuhan dan perkembangan.<br />
h.Nutrisi.<br />
3.Pemeriksaan fisik.<br />
a.Sistem kardiovaskuler.<br />
Tidak ada kelainan.<br />
b.Sistem pernapasan.<br />
Sesak napas, distres pernapasan.<br />
c.Sistem pencernaan.<br />
Umumnya obstipasi. Perut kembung/perut tegang, muntah berwarna hijau. Pada anak yang lebih besar terdapat diare kronik. Pada colok anus jari akan merasakan jepitan dan pada waktu ditarik akan diikuti dengan keluarnya udara dan mekonium atau tinja yang menyemprot.<br />
d.Sistem genitourinarius.<br />
e.Sistem saraf.<br />
Tidak ada kelainan.<br />
f.Sistem lokomotor/muskuloskeletal.<br />
Gangguan rasa nyaman.<br />
g.Sistem endokrin.<br />
Tidak ada kelainan.<br />
h.Sistem integumen.<br />
Akral hangat.<br />
i.Sistem pendengaran.<br />
Tidak ada kelainan.</p>
<p>4.Pemeriksaan diagnostik dan hasil.<br />
a.Foto polos abdomen tegak akan terlihat usus-usus melebar atau terdapat gambaran obstruksi usus rendah.<br />
b.Pemeriksaan dengan barium enema ditemukan daerah transisi, gambaran kontraksi usus yang tidak teratur di bagian menyempit, enterokolitis pada segmen yang melebar dan terdapat retensi barium setelah 24-48 jam.<br />
c.Biopsi isap, mencari sel ganglion pada daerah sub mukosa.<br />
d.Biopsi otot rektum, yaitu pengambilan lapisan otot rektum.<br />
e.Pemeriksaan aktivitas enzim asetilkolin esterase dimana terdapat peningkatan aktivitas enzim asetilkolin eseterase.</p>
<p>B.Diagnosa Keperawatan<br />
1.Gangguan eliminasi BAB : obstipasi berhubungan dengan spastis usus dan tidak adanya daya dorong.<br />
2.Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang inadekuat.<br />
3.Kekurangan cairan tubuh berhubungan muntah dan diare.<br />
4.Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan adanya distensi abdomen.<br />
5.Koping keluarga tidak efektif berhubungan dengan keadaan status kesehatan anak.</p>
<p>C.Perencanaan Keperawatan<br />
Gangguan eliminasi BAB : obstipasi berhubungan dengan spastis usus dan tidak adanya daya dorong.<br />
Itervensi:<br />
1.Monitor cairan yang keluar dari kolostomi<br />
2.Pantau jumlah cairan kolostomi<br />
3.Pantau pengaruh diet terhadap pola defekasi</p>
<p>Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang inadekuat<br />
intervensi:<br />
1.Berikan nutrisi parenteral sesuai kebutuhan.<br />
2.Pantau pemasukan makanan selama perawatan<br />
3.Pantau atau timbang berat badan</p>
<p>Kekurangan cairan tubuh berhubungan muntah dan diare.<br />
intervensi:<br />
1.Monitor tanda-tanda dehidrasi.<br />
2.Monitor cairan yang masuk dan keluar.<br />
3.Berikan caiaran sesuai kebutuhan dan yang diprograrmkan</p>
<p>Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan adanya distensi abdomen<br />
intervensi:<br />
1.Kaji terhadap tanda nyeri<br />
2.Berikan tindakan kenyamanan : menggendong, suara halus, ketenangan<br />
3.Berikan obat analgesik sesuai program</p>
<p>Daftar Pustaka</p>
<p>Kuzemko, Jan, 1995, Pemeriksaan Klinis Anak, alih bahasa Petrus Andrianto, cetakan III, EGC, Jakarta.</p>
<p>Lyke, Merchant Evelyn, 1992, Assesing for Nursing Diagnosis ; A Human Needs Approach,J.B. Lippincott Company, London.</p>
<p>Mansjoer, dkk. 2000, Kapita Selekta Kedokteran, ed.3, Media Aesculapius, Jakarta.</p>
<p>Ngastiyah, 1997, Perawatan Anak Sakit, EGC, Jakarta.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yusniraharjo.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yusniraharjo.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yusniraharjo.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yusniraharjo.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yusniraharjo.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yusniraharjo.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yusniraharjo.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yusniraharjo.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yusniraharjo.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yusniraharjo.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yusniraharjo.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yusniraharjo.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yusniraharjo.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yusniraharjo.wordpress.com/72/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusniraharjo.wordpress.com&amp;blog=7440325&amp;post=72&amp;subd=yusniraharjo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yusniraharjo.wordpress.com/2009/06/01/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengan-hirschprung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9f3bc14133df71eef8a5cf6bf225199c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yusni raharjo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN GASTROENTERITIS</title>
		<link>http://yusniraharjo.wordpress.com/2009/06/01/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengan-gastroenteritis/</link>
		<comments>http://yusniraharjo.wordpress.com/2009/06/01/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengan-gastroenteritis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 01:55:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yusniraharjo</dc:creator>
				<category><![CDATA[SCIENCE OF NURSING]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yusniraharjo.wordpress.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[A. KONSEP DASAR I. PENGERTIAN. Gastroentritis ( GE ) adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan atau tanpa disertai muntah (Sowden,et all.1996). Gastroenteritis diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekwensi yang lebih banyak dari biasanya (FKUI,1965). Gastroenteritis adalah inflamasi pada daerah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusniraharjo.wordpress.com&amp;blog=7440325&amp;post=70&amp;subd=yusniraharjo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A. KONSEP DASAR</p>
<p>I. PENGERTIAN.</p>
<p>Gastroentritis ( GE ) adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan atau tanpa disertai muntah (Sowden,et all.1996).</p>
<p>Gastroenteritis diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekwensi yang lebih banyak dari biasanya (FKUI,1965).</p>
<p>Gastroenteritis adalah inflamasi pada daerah lambung dan intestinal yang disebabkan oleh bakteri yang bermacam-macam,virus dan parasit yang patogen (Whaley &amp; Wong’s,1995).</p>
<p>Gastroenteritis adalah kondisis dengan karakteristik adanya muntah dan diare yang disebabkan oleh infeksi,alergi atau keracunan zat makanan ( Marlenan Mayers,1995 ).</p>
<p>Dari keempat pengertian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa Gstroentritis adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare dengan frekwensi lebih banyak dari biasanya yang disebabkan oleh bakteri,virus dan parasit yang patogen.</p>
<p>II. PATOFISIOLOGI.</p>
<p>Penyebab gastroenteritis akut adalah masuknya virus (Rotravirus, Adenovirus enteris, Virus Norwalk), Bakteri atau toksin (Compylobacter, Salmonella, Escherihia Coli, Yersinia dan lainnya), parasit (Biardia Lambia, Cryptosporidium). Beberapa mikroorganisme patogen ini menyebabkan infeksi pada sel-sel, memproduksi enterotoksin atau Cytotoksin dimana merusak sel-sel, atau melekat pada dinding usus pada Gastroenteritis akut.</p>
<p>Penularan Gastroenteritis bias melalui fekal-oral dari satu penderita ke yang lainnya. Beberapa kasus ditemui penyebaran patogen dikarenakan makanan dan minuman yang terkontaminasi.</p>
<p>Mekanisme dasar penyebab timbulnya diare adalah gangguan osmotic (makanan yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus,isi rongga usus berlebihan sehingga timbul diare ). Selain itu menimbulkan gangguan sekresi akibat toksin di dinding usus, sehingga sekresi air dan elektrolit meningkat kemudian terjadi diare. Gangguan multilitas usus yang mengakibatkan hiperperistaltik dan hipoperistaltik. Akibat dari diare itu sendiri adalah kehilangan air dan elektrolit (Dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan asam basa (Asidosis Metabolik dan Hipokalemia), gangguan gizi (intake kurang, output berlebih), hipoglikemia dan gangguan sirkulasi darah.</p>
<p>III. GEJALA KLINIS.</p>
<p>a. Diare.</p>
<p>b. Muntah.</p>
<p>c. Demam.</p>
<p>d. Nyeri Abdomen</p>
<p>e. Membran mukosa mulut dan bibir kering</p>
<p>f. Fontanel Cekung</p>
<p>g. Kehilangan berat badan</p>
<p>h. Tidak nafsu makan</p>
<p>i. Lemah</p>
<p>IV. KOMPLIKASI.</p>
<p>a. Dehidrasi</p>
<p>b. Renjatan hipovolemik</p>
<p>c. Kejang</p>
<p>d. Bakterimia</p>
<p>e. Mal nutrisi</p>
<p>f. Hipoglikemia</p>
<p>g. Intoleransi sekunder akibat kerusakan mukosa usus.</p>
<p>Dari komplikasi Gastroentritis,tingkat dehidrasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut :</p>
<p>a. Dehidrasi ringan</p>
<p>Kehilangan cairan 2 – 5 % dari berat badan dengan gambaran klinik turgor kulit kurang elastis, suara serak, penderita belum jatuh pada keadaan syok.</p>
<p>b. Dehidrasi Sedang</p>
<p>Kehilangan cairan 5 – 8 % dari berat badan dengan gambaran klinik turgor kulit jelek, suara serak, penderita jatuh pre syok nadi cepat dan dalam.</p>
<p>c. Dehidrasi Berat</p>
<p>Kehilangan cairan 8 &#8211; 10 % dari bedrat badan dengan gambaran klinik seperti tanda-tanda dehidrasi sedang ditambah dengan kesadaran menurun, apatis sampai koma, otot-otot kaku sampai sianosis.</p>
<p>V. PENATALAKSANAAN MEDIS.</p>
<p>a. Pemberian cairan.</p>
<p>b. Diatetik : pemberian makanan dan minuman khusus pada penderita dengan tujuan penyembuhan dan menjaga kesehatan adapun hal yang perlu diperhatikan :</p>
<p>1. Memberikan asi.</p>
<p>2. Memberikan bahan makanan yang mengandung kalori, protein, vitamin, mineral dan makanan yang bersih.</p>
<p>c. Obat-obatan.</p>
<p>Keterangan :</p>
<p>a. Pemberian cairan,pada klien Diare dengasn memperhatikan derajat dehidrasinya dan keadaan umum.</p>
<p>1. cairan per oral.</p>
<p>Pada klien dengan dehidrasi ringan dan sedang,cairan diberikan peroral berupa cairan yang berisikan NaCl dan Na,Hco,Kal dan Glukosa,untuk Diare akut diatas umur 6 bulan dengan dehidrasi ringan,atau sedang kadar natrium 50-60 Meq/I dapat dibuat sendiri (mengandung larutan garam dan gula ) atau air tajin yang diberi gula dengan garam. Hal tersebut diatas adalah untuk pengobatan dirumah sebelum dibawa kerumah sakit untuk mencegah dehidrasi lebih lanjut.</p>
<p>2. Cairan parentral.</p>
<p>Mengenai seberapa banyak cairan yang harus diberikan tergantung dari berat badan atau ringannya dehidrasi,yang diperhitungkan kehilangan cairan sesuai dengan umur dan berat badannya.</p>
<p>2.1. Dehidrasi ringan.</p>
<p>2.1.1. 1 jam pertama 25 – 50 ml / Kg BB / hari</p>
<p>2.1.2. Kemudian 125 ml / Kg BB / oral</p>
<p>2.2. Dehidrasi sedang.</p>
<p>2.2.1. 1 jam pertama 50 – 100 ml / Kg BB / oral</p>
<p>2.2.2. kemudian 125 ml / kg BB / hari.</p>
<p>2.3. Dehidrasi berat.</p>
<p>2.3.1. Untuk anak umur 1 bulan – 2 tahun dengan berat badan 3 – 10 kg</p>
<p>· 1 jam pertama : 40 ml / kg BB / jam = 10 tetes / kg BB / menit (infus set 1 ml = 15 tetes atau 13 tetes / kg BB / menit.</p>
<p>· 7 jam berikutnya 12 ml / kg BB / jam = 3 tetes / kg BB / menit ( infus set 1 ml = 20 tetes ).</p>
<p>· 16 jam berikutnya 125 ml / kg BB oralit per oral bila anak mau minum,teruskan dengan 2A intra vena 2 tetes / kg BB / menit atau 3 tetes / kg BB / menit.</p>
<p>2.3.2. Untuk anak lebih dari 2 – 5 tahun dengan berat badan 10 – 15 kg.</p>
<p>§ 1 jam pertama 30 ml / kg BB / jam atau 8 tetes / kg BB / menit ( infus set 1 ml = 15 tetes ) atau 10 tetes / kg BB / menit ( 1 ml = 20 tetes ).</p>
<p>§ 7 jam kemudian 127 ml / kg BB oralit per oral,bila anak tidak mau minum dapat diteruskan dengan 2A intra vena 2 tetes / kg BB / menit atau 3 tetes / kg BB / menit.</p>
<p>2.3.3. Untuk anak lebih dari 5 – 10 tahun dengan berat badan 15 – 25 kg.</p>
<p>§ 1 jam pertama 20 ml / kg BB / jam atau 5 tetes / kg BB / menit ( infus set 1 ml = 20 tetes ).</p>
<p>§ 16 jam berikutnya 105 ml / kg BB oralit per oral.</p>
<p>2.4. Diatetik ( pemberian makanan ).</p>
<p>Terafi diatetik adalah pemberian makan dan minum khusus kepada penderita dengan tujuan meringankan,menyembuhkan serta menjaga kesehatan penderita.</p>
<p>Hal – hal yang perlu diperhatikan :</p>
<p>2.4.1. Memberikan Asi.</p>
<p>2.4.2. Memberikan bahan makanan yang mengandung cukup kalori,protein,mineral dan vitamin,makanan harus bersih.</p>
<p>2.5. Obat-obatan.</p>
<p>2.5.1. Obat anti sekresi.</p>
<p>2.5.2. Obat anti spasmolitik.</p>
<p>2.5.3. Obat antibiotik.<br />
VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG</p>
<p>1. Pemeriksaan laboratorium.</p>
<p>1.1. Pemeriksaan tinja.</p>
<p>1.2. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah astrup,bila memungkinkan dengan menentukan PH keseimbangan analisa gas darah atau astrup,bila memungkinkan.</p>
<p>1.3. Pemeriksaan kadar ureum dan creatinin untuk mengetahui pungsi ginjal.</p>
<p>2. pemeriksaan elektrolit intubasi duodenum untuk mengetahui jasad renik atau parasit secara kuantitatif,terutama dilakukan pada penderita diare kronik.</p>
<p>VII. TUMBUH KEMBANG ANAK.</p>
<p>Berdasarkan pengertian yang didapat,penulis menguraikan tentang pengertian dari pertumbuhan adalah berkaitan dengan masa pertumbuhan dalam besar, jumlah, ukuran atau dengan dimensi tentang sel organ individu, sedangkan perkembangan adalah menitik beratkan pada aspek perubahan bentuk atau fungsi pematangan organ individu termasuk perubahan aspek dan emosional.</p>
<p>Anak adalah merupakan makhluk yang unik dan utuh, bukan merupakan orang dewasa kecil, atau kekayaan orang tua yang nilainya dapat dihitung secara ekonomi.</p>
<p>Tujuan keperawatan anak adalah meningkatkan maturasi yang sehat bagi anak, baik secara fisik, intelektual dan emosional secara sosial dan konteks keluarga dan masyarakat.</p>
<p>Tumbuh kembang pada bayi usia 6 bulan.</p>
<p>a. Motorik halus.</p>
<p>1. Mulai belajar meraih benda-benda yang ada didalam jangkauan ataupun diluar.</p>
<p>2. Menangkap objek atau benda-benda dan menjatuhkannya</p>
<p>3. Memasukkan benda kedalam mulutnya.</p>
<p>4. Memegang kaki dan mendorong ke arah mulutnya.</p>
<p>5. Mencengkram dengan seluruh telapak tangan.</p>
<p>b. Motorik kasar.</p>
<p>1. Mengangkat kepala dan dada sambil bertopang tangan.</p>
<p>2. Dapat tengkurap dan berbalik sendiri.</p>
<p>3. Dapat merangkak mendekati benda atau seseorang.</p>
<p>c. Kognitif.</p>
<p>1. Berusaha memperluas lapangan.</p>
<p>2. Tertawa dan menjerit karena gembira bila diajak bermain.</p>
<p>3. Mulai mencari benda-benda yang hilang.</p>
<p>d. Bahasa.</p>
<p>Mengeluarkan suara ma, pa, ba walaupun kita berasumsi ia sudah dapat memanggil kita, tetapi sebenarnya ia sama sekali belum mengerti.</p>
<p>VIII. DAMPAK HOSPITALISASI TERHADAP ANAK.</p>
<p>Separation ansiety</p>
<p>a. Tergantung pada orang tua</p>
<p>b. Stress bila berpisah dengan orang yang berarti</p>
<p>c. Tahap putus asa : berhenti menangis, kurang aktif, tidak mau makan, main, menarik diri, sedih, kesepian dan apatis</p>
<p>d. Tahap menolak : Samar-samar seperti menerima perpisahan, menerima hubungan denga.n orang lain dan menyukai lingkungan</p>
<p>B. ASUHAN KEPERTAWATAN SECARA TEORITIS<br />
PENGKAJIAN.</p>
<p>Pengkajian yang sistematis meliputi pengumpulan data,analisa data dan penentuan masalah. Pengumpulan data diperoleh dengan cara intervensi,observasi,psikal assessment. Kaji data menurut Cyndi Smith Greenberg,1992 adalah :</p>
<p>1. Identitas klien.</p>
<p>2. Riwayat keperawatan.</p>
<p>2.1.Awala serangan : Awalnya anak cengeng,gelisah,suhu tubuh meningkat,anoreksia kemudian timbul diare.</p>
<p>2.2.Keluhan utama : Faeces semakin cair,muntah,bila kehilangan banyak air dan elektrolit terjadi gejala dehidrasi,berat badan menurun. Pada bayi ubun-ubun besar cekung,tonus dan turgor kulit berkurang,selaput lendir mulut dan bibir kering,frekwensi BAB lebih dari 4 kali dengan konsistensi encer.</p>
<p>3. Riwayat kesehatan masa lalu.</p>
<p>Riwayat penyakit yang diderita,riwayat pemberian imunisasi.</p>
<p>4. Riwayat psikososial keluarga.</p>
<p>Dirawat akan menjadi stressor bagi anak itu sendiri maupun bagi keluarga,kecemasan meningkat jika orang tua tidak mengetahui prosedur dan pengobatan anak,setelah menyadari penyakit anaknya,mereka akan bereaksi dengan marah dan merasa bersalah.</p>
<p>5. Kebutuhan dasar.</p>
<p>5.1.Pola eliminasi : akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih dari 4 kali sehari,BAK sedikit atau jarang.</p>
<p>5.2.Pola nutrisi : diawali dengan mual,muntah,anopreksia,menyebabkan penurunan berat badan pasien.</p>
<p>5.3.Pola tidur dan istirahat akan terganggu karena adanya distensi abdomen yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman.</p>
<p>5.4.Pola hygiene : kebiasaan mandi setiap harinya.</p>
<p>5.5.Aktivitas : akan terganggu karena kondisi tubuh yang lamah dan adanya nyeri akibat distensi abdomen.</p>
<p>6. Pemerikasaan fisik.</p>
<p>6.1. Pemeriksaan psikologis : keadaan umum tampak lemah,kesadran composmentis sampai koma,suhu tubuh tinggi,nadi cepat dan lemah,pernapasan agak cepat.</p>
<p>6.2. Pemeriksaan sistematik :</p>
<p>6.2.1. Inspeksi : mata cekung,ubun-ubun besar,selaput lendir,mulut dan bibir kering,berat badan menurun,anus kemerahan.</p>
<p>6.2.2. Perkusi : adanya distensi abdomen.</p>
<p>6.2.3. Palpasi : Turgor kulit kurang elastis</p>
<p>6.2.4. Auskultasi : terdengarnya bising usus.</p>
<p>6.3. Pemeriksaan tinglkat tumbuh kembang.</p>
<p>Pada anak diare akan mengalami gangguan karena anak dehidrasi sehingga berat badan menurun.</p>
<p>6.4. Pemeriksaan penunjang.</p>
<p>Pemeriksaan tinja,darah lengkap dan doodenum intubation yaitu untuk mengetahui penyebab secara kuantitatip dan kualitatif.</p>
<p>II. DIAGNOSA KEPERWATAN.</p>
<p>1. Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan.</p>
<p>2. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubuingan dengan mual dan muntah.</p>
<p>3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi,frekwensi BAB yang berlebihan.</p>
<p>4. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.</p>
<p>5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit,prognosis dan pengobatan.</p>
<p>6. Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua,prosedur yang menakutkan.</p>
<p>III.INTERVENSI.</p>
<p>Diagnosa 1.</p>
<p>Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan output cairan yang berlebihan.</p>
<p>Tujuan .</p>
<p>Devisit cairan dan elektrolit teratasi</p>
<p>Kriteria hasil</p>
<p>Tanda-tanda dehidrasi tidak ada, mukosa mulut dan bibir lembab, balan cairan seimbang</p>
<p>Intervensi</p>
<p>Observasi tanda-tanda vital. Observasi tanda-tanda dehidrasi. Ukur infut dan output cairan (balanc ccairan). Berikan dan anjurkan keluarga untuk memberikan minum yang banyak kurang lebih 2000 – 2500 cc per hari. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi cairan, pemeriksaan lab elektrolit. Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian cairan rendah sodium.</p>
<p>Diagnosa 2.</p>
<p>Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubuingan dengan mual dan muntah.</p>
<p>Tujuan</p>
<p>Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi teratasi</p>
<p>Kriteria hasil</p>
<p>Intake nutrisi klien meningkat, diet habis 1 porsi yang disediakan, mual,muntah tidak ada.</p>
<p>Intervensi</p>
<p>Kaji pola nutrisi klien dan perubahan yang terjadi. Timbang berat badan klien. Kaji factor penyebab gangguan pemenuhan nutrisi. Lakukan pemerikasaan fisik abdomen (palpasi,perkusi,dan auskultasi). Berikan diet dalam kondisi hangat dan porsi kecil tapi sering. Kolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan diet klien.</p>
<p>Diagnosa 3.</p>
<p>Gangguan integritas kulit berhubungan dengan iritasi,frekwensi BAB yang berlebihan.</p>
<p>Tujuan</p>
<p>Gangguan integritas kulit teratasi</p>
<p>Kriteria hasil</p>
<p>Integritas kulit kembali normal, iritasi tidak ada, tanda-tanda infeksi tidak ada</p>
<p>Intervensi</p>
<p>Ganti popok anak jika basah. Bersihkan bokong perlahan sabun non alcohol. Beri zalp seperti zinc oxsida bila terjadi iritasi pada kulit. Observasi bokong dan perineum dari infeksi. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi antipungi sesuai indikasi.</p>
<p>Diagnosa 4.</p>
<p>Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen.</p>
<p>Tujuan</p>
<p>Nyeri dapat teratasi</p>
<p>Kriteria hasil</p>
<p>Nyeri dapat berkurang / hiilang, ekspresi wajah tenang</p>
<p>Intervensi</p>
<p>Observasi tanda-tanda vital. Kaji tingkat rasa nyeri. Atur posisi yang nyaman bagi klien. Beri kompres hangat pada daerah abdoment. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therafi analgetik sesuai indikasi.</p>
<p>Diagnosa 5.</p>
<p>Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit,prognosis dan pengobatan.</p>
<p>Tujuan</p>
<p>Pengetahuan keluarga meningkat</p>
<p>Kriteria hasil</p>
<p>Keluarga klien mengeri dengan proses penyakit klien, ekspresi wajah tenang, keluarga tidak banyak bertanya lagi tentang proses penyakit klien.</p>
<p>Intervensi</p>
<p>Kaji tingkat pendidikan keluarga klien. Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang proses penyakit klien. Jelaskan tentang proses penyakit klien dengan melalui penkes. Berikan kesempatan pada keluarga bila ada yang belum dimengertinya. Libatkan keluarga dalam pemberian tindakan pada klien.</p>
<p>Diagnosa 6.</p>
<p>Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua,prosedur yang menakutkan.</p>
<p>Tujuan</p>
<p>Kaji tingkat kecemasan klien. Kaji factor pencetus cemas. Buat jadwal kontak dengan klien. Kaji hal yang disukai klien. Berikan mainan sesuai kesukaan klien. Libatkan keluarga dalam setiap tindakan. Anjurkan pada keluarga unrtuk selalu mendampingi klien.</p>
<p>IV. EVALUASI.</p>
<p>1. Volume cairan dan elektrolit kembali normal sesuai kebutuhan.</p>
<p>2. Kebutuhan nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhantubuh.</p>
<p>3. Integritas kulit kembali noprmal.</p>
<p>4. Rasa nyaman terpenuhi.</p>
<p>5. Pengetahuan kelurga meningkat.</p>
<p>6. Cemas pada klien teratasi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yusniraharjo.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yusniraharjo.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yusniraharjo.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yusniraharjo.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yusniraharjo.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yusniraharjo.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yusniraharjo.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yusniraharjo.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yusniraharjo.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yusniraharjo.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yusniraharjo.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yusniraharjo.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yusniraharjo.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yusniraharjo.wordpress.com/70/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusniraharjo.wordpress.com&amp;blog=7440325&amp;post=70&amp;subd=yusniraharjo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yusniraharjo.wordpress.com/2009/06/01/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengan-gastroenteritis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9f3bc14133df71eef8a5cf6bf225199c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yusni raharjo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TANDA-TANDA AWAL KEHAMILAN</title>
		<link>http://yusniraharjo.wordpress.com/2009/06/01/tanda-tanda-awal-kehamilan/</link>
		<comments>http://yusniraharjo.wordpress.com/2009/06/01/tanda-tanda-awal-kehamilan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 01:48:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yusniraharjo</dc:creator>
				<category><![CDATA[GENERAL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yusniraharjo.wordpress.com/2009/06/01/tanda-tanda-awal-kehamilan/</guid>
		<description><![CDATA[Ada banyak tanda-tanda kehamilan. Berikut beberapa tanda yang menunjukkan kemungkinan kehamilan: 1. Kelelahan Mudah lelah dan tak bersemangat merupakan salah satu tanda kehamilan. Peningkatan kadar hormon progesteron yang terjadi di awal kehamilan diduga menyebabkan rasa kantuk. Biasanya gejala kelelahan ini akan berakhir setelah usia kehamilan memasuki trimester dua. 2. Payudara bengkak Tanda awal kehamilan adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusniraharjo.wordpress.com&amp;blog=7440325&amp;post=69&amp;subd=yusniraharjo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada banyak tanda-tanda kehamilan. Berikut beberapa tanda yang menunjukkan kemungkinan kehamilan:   1. Kelelahan  Mudah lelah dan tak bersemangat merupakan salah satu tanda kehamilan. Peningkatan kadar hormon progesteron yang terjadi di awal kehamilan diduga menyebabkan rasa kantuk. Biasanya gejala kelelahan ini akan berakhir setelah usia kehamilan memasuki trimester dua.   2. Payudara bengkak  Tanda awal kehamilan adalah payudara yang bengkak dan sensitif yang disebabkan oleh meningkatnya kadar hormon, biasanya terjadi seminggu setelah haid terlambat. Rasa tidak nyaman akibat pembengkakan ini mirip dengan gejala yang biasa kita rasakan menjelang menstruasi.   3. Mual dan muntah  Gejala mual dan muntah yang umum dialami ibu hamil biasa disebut sebagai morning sickness. Gejala ini bisa muncul kapan saja, tidak hanya di pagi hari. Pada umumnya ibu hamil baru mengalaminya sebulan setelah terjadinya pembuahan, tetapi ada juga yang merasakannya lebih cepat.   4. Pendarahan sedikit  Sekitar 11-12 hari setelah pembuahan, ada kalanya muncul bercak kemerahan di vagina. Pendarahan ini terjadi karena benih tertanam di lapisan rahim. Umumnya bercak berwarna merah atau agak merah jambu yang terlihat selama 1-2 hari. Pendarahan serupa juga bisa menjadi gejala adanya penyakit di saluran reproduksi.   5. Penciuman lebih sensitif  Pada trimester pertama, banyak ibu hamil yang merasa penciumannya lebih sensitif terhadap aroma tertentu. Ada yang mual mencium bau masakan tertentu atau wangi parfum. Belum diketahui alasan ilmiah gejala ini, tapi mungkin terjadi karena meningkatnya kadar estrogen secara drastis dalam sistem tubuh.   6. Sering berkemih  Di bulan-bulan pertama kehamilan, ibu hamil akan lebih rajin bolak-balik ke toilet untuk buang air kecil. Mengapa? Ini terjadi karena meningkatnya sirkulasi darah dan cairan dalam tubuh, juga tekanan pada saluran kemih akibat membesarnya uterus.   7. Suhu tubuh naik  Bila pada awal kehamilan Anda mengukur suhu tubuh, Anda akan menyadari suhu tubuh Anda meningkat jadi lebih hangat.   8. Tidak haid  Bila siklus menstruasi Anda sebelumnya selalu teratur tapi bulan ini terlambat, mungkin Anda perlu segera mencari tes kehamilan untuk memastikan adanya kehamilan.   9. Puting/payudara lebih lembut  Jika Anda hamil, Anda akan mengenali bahwa payudara dan putingnya menjadi lebih lembut sekitar tiga pekan setelah pembuahan (saat haid terlambat sekitar seminggu). Mungkin payudara terasa bengkak, serupa dengan saat menjelang haid.   10. Penggelapan areola  Pada kehamilan awal, Anda mungkin mengenali daerah areola (daerah gelap yang mengelilingi puting payudara) mulai menjadi lebih gelap dan diameternya membesar. Diyakini bahwa bertambah gelapnya warna areola membantu bayi yang baru lahir menemukan puting untuk menyusu. Anda mungkin juga akan mengenali bahwa vena di payudara menjadi lebih kelihatan karena penegangan payudara.   11. Sembelit  Buang air besar (BAB) menjadi sulit dan tidak lancar? Ini lazim terjadi pada awal kehamilan. Hormon tambahan yang diproduksi pada masa kehamilan menyebabkan usus halus lebih lentur dan menjadi kurang efisien.  12. Melunaknya rahim dan leher rahim  Biasanya, terjadi sekitar usia kehamilan 2-8 minggu.   13. Tidak ada nafsu makan  Mungkin ada hubungannya dengan mual mual diatas.   14. Vaginal Discharge /Keputihan atau keluarnya cairan berlebihan dari vagina karena pengaruh hormonal.  Hal ini termasuk normal. Namun sebaiknya terus dilakukan observasi jika terjadi perubahan warna , bau dan terjadi gatal2 atau rasa &#8220;burning&#8221;.   15. Insomnia  Beberapa kasus, biasanya ibu hamil mengalami sulit tidur.   16. Rahim dan perut membesar  Umumnya, dimulai pada usia kehamilan 8-12 minggu.   17. Terdapat kelainan di gigi dan rongga mulut  Terdapat beberapa tanda khas kehamilan pada gigi dan rongga mulut. Untuk lebih jelasnya silahkan baca di (klik saja)  &#8211; manifestasi kehamilan di rongga mulut  &#8211; perawatan gigi dan mulut saat hamil   18. Flu/batuk/hidung berdarah/pusing2/migraen  Jangan terburu untuk menelan obat. Lakukan treatmen secara alami terlebih dahulu. Bisa jadi pula hal tersebut terjadi karena turunnya daya tahan tubuh saat hamil.   19. Tes kehamilan  Merupakan tes &#8220;pasti&#8221; kehamilan jika &#8220;positif&#8221; , antara lain:  &#8211; home pregnancy test misalnya berupa tes pack yang dilakukan di rumah  &#8211; pemeriksaan USG  &#8211; office pregnancy test  &#8211; pregnancy blood test  &#8211; internal exam.  Sebenarnya, semua tes kehamilan bekerja untuk melacak hormon khas kehamilan, yakni human Chorionic Gonadotropin (hCG). Hormon ini hanya bisa ditemukan dalam darah atau urin ibu hamil. Saat hamil, akan terjadi peningkatan hormon hCG dalam tubuh. Dan, peningkatan hormon ini tidak sama pada setiap orang. Umumnya, hormon ini mulai meningkat kira-kira seminggu setelah ovulasi. Meski begitu, sebaiknya tes kehamilan dilakukan bila haid terlambat selama 2 minggu.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yusniraharjo.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yusniraharjo.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yusniraharjo.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yusniraharjo.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yusniraharjo.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yusniraharjo.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yusniraharjo.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yusniraharjo.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yusniraharjo.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yusniraharjo.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yusniraharjo.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yusniraharjo.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yusniraharjo.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yusniraharjo.wordpress.com/69/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusniraharjo.wordpress.com&amp;blog=7440325&amp;post=69&amp;subd=yusniraharjo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yusniraharjo.wordpress.com/2009/06/01/tanda-tanda-awal-kehamilan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9f3bc14133df71eef8a5cf6bf225199c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yusni raharjo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DHF</title>
		<link>http://yusniraharjo.wordpress.com/2009/06/01/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengan-dhf/</link>
		<comments>http://yusniraharjo.wordpress.com/2009/06/01/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengan-dhf/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 01:44:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yusniraharjo</dc:creator>
				<category><![CDATA[SCIENCE OF NURSING]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yusniraharjo.wordpress.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[Pengertian Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (Christantie Efendy,1995 ). Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang terdapat pada anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusniraharjo.wordpress.com&amp;blog=7440325&amp;post=67&amp;subd=yusniraharjo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengertian<br />
Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (Christantie Efendy,1995 ).<br />
Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang terdapat pada anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam. DHF sejenis virus yang tergolong arbo virus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (betina) (Seoparman , 1990).<br />
DHF adalah demam khusus yang dibawa oleh aedes aegypty dan beberapa nyamuk lain yang menyebabkan terjadinya demam. Biasanya dengan cepat menyebar secara efidemik. (Sir,Patrick manson,2001).<br />
Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah suatu penyakit akut yang disebabkan oleh virus yang ditularkan oleh nyamuk aedes aegypty (Seoparman, 1996).<br />
Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty yang terdapat pada anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam.<br />
2. Etiologi<br />
a. Virus dengue sejenis arbovirus.<br />
b. Virus dengue tergolong dalam family Flavividae dan dikenal ada 4 serotif, Dengue 1 dan 2 ditemukan di Irian ketika berlangsungnya perang dunia ke II, sedangkan dengue 3 dan 4 ditemukan pada saat wabah di Filipina tahun 1953-1954. Virus dengue berbentuk batang, bersifat termoragil, sensitif terhadap in aktivitas oleh diatiter dan natrium diaksikolat, stabil pada suhu 70 oC.<br />
Keempat serotif tersebut telah di temukan pula di Indonesia dengan serotif ke 3 merupakan serotif yang paling banyak.<br />
3. Patofisiologi<br />
Virus akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypty dan kemudian akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah kompleks virus-antibody. Dalam sirkulasi akan mengaktivasi system komplemen. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a,dua peptida yang berdaya untuk melepaskan histamine dan merupakan mediator kuat sebagai factor meningkatnya permeabilitas dinding pembuluh darah dan menghilangkan plasma melalui endotel dinding itu.<br />
Terjadinya trobositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagulasi (protombin dan fibrinogen) merupakan factor penyebab terjadinya perdarahan hebat , terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF.<br />
Yang menentukan beratnya penyakit adalah meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah , menurunnya volume plasma , terjadinya hipotensi , trombositopenia dan diathesis hemorrhagic , renjatan terjadi secara akut.<br />
Nilai hematokrit meningkat bersamaan dengan hilangnya plasma melalui endotel dinding pembuluh darah. Dan dengan hilangnya plasma klien mengalami hipovolemik. Apabila tidak diatasi bisa terjadi anoxia jaringan, acidosis metabolic dan kematian.<br />
4. Tanda dan gejala<br />
a. Demam tinggi selama 5 – 7 hari<br />
b. Mual, muntah, tidak ada nafsu makan, diare, konstipasi.<br />
c. Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit, ptechie, echymosis, hematoma.<br />
d. Epistaksis, hematemisis, melena, hematuri.<br />
e. Nyeri otot, tulang sendi, abdoment, dan ulu hati.<br />
f. Sakit kepala.<br />
g. Pembengkakan sekitar mata.<br />
h. Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening.<br />
i. Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah menurun, gelisah, capillary refill lebih dari dua detik, nadi cepat dan lemah).<br />
5. Komplikasi<br />
Adapun komplikasi dari penyakit demam berdarah diantaranya :<br />
a. Perdarahan luas.<br />
b. Shock atau renjatan.<br />
c. Effuse pleura<br />
d. Penurunan kesadaran.<br />
6. Klasifikasi<br />
a. Derajat I :<br />
Demam disertai gejala klinis lain atau perdarahan spontan, uji turniket positi, trombositopeni dan hemokonsentrasi.<br />
b. Derajat II :<br />
Manifestasi klinik pada derajat I dengan manifestasi perdarahan spontan di bawah kulit seperti peteki, hematoma dan perdarahan dari lain tempat.<br />
c. Derajat III :<br />
Manifestasi klinik pada derajat II ditambah dengan ditemukan manifestasi kegagalan system sirkulasi berupa nadi yang cepat dan lemah, hipotensi dengan kulit yang lembab, dingin dan penderita gelisah.<br />
d. Derajat IV :<br />
Manifestasi klinik pada penderita derajat III ditambah dengan ditemukan manifestasi renjatan yang berat dengan ditandai tensi tak terukur dan nadi tak teraba.<br />
7. Pemeriksaan penunjang<br />
a. Darah<br />
1) Trombosit menurun.<br />
2) HB meningkat lebih 20 %<br />
3) HT meningkat lebih 20 %<br />
4) Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3<br />
5) Protein darah rendah<br />
6) Ureum PH bisa meningkat<br />
7) NA dan CL rendah<br />
b. Serology : HI (hemaglutination inhibition test).<br />
1) Rontgen thorax : Efusi pleura.<br />
2) Uji test tourniket (+)<br />
8. Penatalaksanaan<br />
a. Tirah baring<br />
b. Pemberian makanan lunak .<br />
c. Pemberian cairan melalui infus.<br />
Pemberian cairan intra vena (biasanya ringer lactat, nacl) ringer lactate merupakan cairan intra vena yang paling sering digunakan , mengandung Na + 130 mEq/liter , K+ 4 mEq/liter, korekter basa 28 mEq/liter , Cl 109 mEq/liter dan Ca = 3 mEq/liter.<br />
d. Pemberian obat-obatan : antibiotic, antipiretik,<br />
e. Anti konvulsi jika terjadi kejang<br />
f. Monitor tanda-tanda vital ( T,S,N,RR).<br />
g. Monitor adanya tanda-tanda renjatan<br />
h. Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut<br />
i. Periksa HB,HT, dan Trombosit setiap hari.<br />
9. Tumbuh kembang pada anak usia 6-12 tahun<br />
Pertumbuhan merupakan proses bertambahnya ukuran berbagai organ fisik berkaitan dengan masalah perubahan dalam jumlah, besar, ukuran atau dimensi tingkat sel. Pertambahan berat badan 2 – 4 Kg / tahun dan pada anak wanita sudah mulai mengembangkan cirri sex sekundernya.<br />
Perkembangan menitik beratkan pada aspek diferensiasi bentuk dan fungsi termasuk perubahan sosial dan emosi.<br />
a. Motorik kasar<br />
1) Loncat tali<br />
2) Badminton<br />
3) Memukul<br />
4) Motorik kasar di bawah kendali kognitif dan berdasarkan secara bertahap meningkatkan irama dan kehalusan.<br />
b. Motorik halus<br />
1) Menunjukan keseimbangan dan koordinasi mata dan tangan<br />
2) Dapat meningkatkan kemampuan menjahit, membuat model dan bermain alat musik.<br />
c. Kognitif<br />
1) Dapat berfokus pada lebih dan satu aspek dan situasi<br />
2) Dapat mempertimbangkan sejumlah alternatif dalam pemecahan masalah<br />
3) Dapat membelikan cara kerja dan melacak urutan kejadian kembali sejak awal<br />
4) Dapat memahami konsep dahulu, sekarang dan yang akan datang<br />
d. Bahasa<br />
1) Mengerti kebanyakan kata-kata abstrak<br />
2) Memakai semua bagian pembicaraan termasuk kata sifat, kata keterangan, kata penghubung dan kata depan<br />
3) Menggunakan bahasa sebagai alat pertukaran verbal<br />
4) Dapat memakai kalimat majemuk dan gabungan<br />
10. Dampak hospitalisasi<br />
Hospitalisasi atau sakit dan dirawat di RS bagi anak dan keluarga akan menimbulkan stress dan tidak merasa aman. Jumlah dan efek stress tergantung pada persepsi anak dan keluarga terhadap kerusakan penyakit dan pengobatan.<br />
Penyebab anak stress meliputi ;<br />
a. Psikososial<br />
Berpisah dengan orang tua, anggota keluarga lain, teman dan perubahan peran<br />
b. Fisiologis<br />
Kurang tidur, perasaan nyeri, imobilisasi dan tidak mengontrol diri<br />
c. Lingkungan asing<br />
Kebiasaan sehari-hari berubah<br />
d. Pemberian obat kimia<br />
Reaksi anak saat dirawat di Rumah sakit usia sekolah (6-12 tahun)<br />
e. Merasa khawatir akan perpisahan dengan sekolah dan teman sebayanya<br />
f. Dapat mengekspresikan perasaan dan mampu bertoleransi terhadap rasa nyeri<br />
g. Selalu ingin tahu alasan tindakan<br />
h. Berusaha independen dan produktif<br />
Reaksi orang tua<br />
a. Kecemasan dan ketakutan akibat dari seriusnya penyakit, prosedur, pengobatan dan dampaknya terhadap masa depan anak<br />
b. Frustasi karena kurang informasi terhadap prosedur dan pengobatan serta tidak familiernya peraturan Rumah sakit.<br />
B. ASUHAN KEPERAWATAN SECARA TEORITIS<br />
1. Pengkajian<br />
Pengkajian merupakan tahap awal yang dilakukan perawat untuk mendapatkan data yang dibutuhkan sebelum melakukan asuhan keperawatan . pengkajian pada pasien dengan “DHF” dapat dilakukan dengan teknik wawancara, pengukuran, dan pemeriksaan fisik. Adapun tahapan-tahapannya meliputi :<br />
a. Mengkaji data dasar, kebutuhan bio-psiko-sosial-spiritual pasien dari berbagai sumber (pasien, keluarga, rekam medik dan anggota tim kesehatan lainnya).<br />
b. Mengidentifikasi sumber-sumber yang potensial dan tersedia untuk memenuhi kebutuhan pasien.<br />
c. Kaji riwayat keperawatan.<br />
d. Kaji adanya peningkatan suhu tubuh ,tanda-tanda perdarahan, mual, muntah, tidak nafsu makan, nyeri ulu hati, nyeri otot dan sendi, tanda-tanda syok (denyut nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit dingin dan lembab terutama pada ekstrimitas, sianosis, gelisah, penurunan kesadaran).<br />
2. Diagnosa keperawatan .<br />
Penyusunan diagnosa keperawatan dilakukan setelah data didapatkan, kemudian dikelompokkan dan difokuskan sesuai dengan masalah yang timbul sebagai contoh diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada kasus DHF diantaranya :<br />
a. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler, perdarahan, muntah dan demam.<br />
b. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue.<br />
c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, tidak ada nafsu makan.<br />
d. Kurang pengetahuan keluarga tentang proses penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi<br />
e. Resiko terjadinya perdarahan berhubungan dengan trombositopenia.<br />
f. Shock hipovolemik berhubungan dengan perdarahan<br />
3. Intervensi<br />
Perumusan rencana perawatan pada kasus DHF hendaknya mengacu pada masalah diagnosa keperawatan yang dibuat. Perlu diketahui bahwa tindakan yang bisa diberikan menurut tindakan yang bersifat mandiri dan kolaborasi. Untuk itu penulis akan memaparkan prinsip rencana tindakan keperawatan yang sesuai dengan diagnosa keperawatan :<br />
a. Gangguan volume cairan tubuh kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler, perdarahan , muntah dan demam.<br />
Tujuan :<br />
Gangguan volume cairan tubuh dapat teratasi<br />
Kriteria hasil :<br />
Volume cairan tubuh kembali normal<br />
Intervensi :<br />
1) Kaji KU dan kondisi pasien<br />
2) Observasi tanda-tanda vital ( S,N,RR )<br />
3) Observasi tanda-tanda dehidrasi<br />
4) Observasi tetesan infus dan lokasi penusukan jarum infus<br />
5) Balance cairan (input dan out put cairan)<br />
6) Beri pasien dan anjurkan keluarga pasien untuk memberi minum banyak<br />
7) Anjurkan keluarga pasien untuk mengganti pakaian pasien yang basah oleh keringat.<br />
b. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue.<br />
Tujuan<br />
Hipertermi dapat teratasi<br />
Kriteria hasil<br />
Suhu tubuh kembali normal<br />
Intervensi<br />
1) Observasi tanda-tanda vital terutama suhu tubuh<br />
2) Berikan kompres dingin (air biasa) pada daerah dahi dan ketiak<br />
3) Ganti pakaian yang telah basah oleh keringat<br />
4) Anjurkan keluarga untuk memakaikan pakaian yang dapat menyerap keringat seperti terbuat dari katun.<br />
5) Anjurkan keluarga untuk memberikan minum banyak kurang lebih 1500 – 2000 cc per hari<br />
6) kolaborasi dengan dokter dalam pemberian Therapi, obat penurun panas.<br />
c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, tidak ada nafsu makan.<br />
Tujuan<br />
Gangguan pemenuhan nutrisi teratasi<br />
Kriteria hasil<br />
Intake nutrisi klien meningkat<br />
Intervensi<br />
1) Kaji intake nutrisi klien dan perubahan yang terjadi<br />
2) Timbang berat badan klien tiap hari<br />
3) Berikan klien makan dalam keadaan hangat dan dengan porsi sedikit tapi sering<br />
4) Beri minum air hangat bila klien mengeluh mual<br />
5) Lakukan pemeriksaan fisik Abdomen (auskultasi, perkusi, dan palpasi).<br />
6) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian Therapi anti emetik.<br />
7) Kolaborasi dengan tim gizi dalam penentuan diet.<br />
d. Kurang pengetahuan keluarga tentang proses penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi<br />
Tujuan<br />
Pengetahuan keluarga tentang proses penyakit meningkat<br />
Kriteria hasil<br />
Klien mengerti tentang proses penyakit DHF<br />
1) Kaji tingkat pendidikan klien.<br />
2) Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang proses penyakit DHF<br />
3) Jelaskan pada keluarga klien tentang proses penyakit DHF melalui Penkes.<br />
4) beri kesempatan pada keluarga untuk bertanya yang belum dimengerti atau diketahuinya.<br />
5) Libatkan keluarga dalam setiap tindakan yang dilakukan pada klien<br />
e. Resiko terjadinya perdarahan berhubungan dengan trobositopenia.<br />
Tujuan<br />
Perdarahan tidak terjadi<br />
Kriteria hasil<br />
Trombosit dalam batas normal<br />
Intervensi<br />
1) Kaji adanya perdarahan<br />
2) Observasi tanda-tanda vital (S.N.RR)<br />
3) Antisipasi terjadinya perlukaan / perdarahan.<br />
4) Anjurkan keluarga klien untuk lebih banyak mengistirahatkan klien<br />
5) Monitor hasil darah, Trombosit<br />
6) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi ,pemberian cairan intra vena.<br />
f. Shock hipovolemik berhubungan dengan perdarahan<br />
Tujuan<br />
Shock hipovolemik dapat teratasi<br />
Kriteria hasil<br />
Volume cairan tubuh kembali normal, kesadaran compos mentis.<br />
Intervensi<br />
1) Observasi tingkat kesadaran klien<br />
2) Observasi tanda-tanda vital (S, N, RR).<br />
3) Observasi out put dan input cairan (balance cairan)<br />
4) Kaji adanya tanda-tanda dehidrasi<br />
5) kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi cairan.<br />
4. Evaluasi.<br />
Evaluasi adalah merupakan salah satu alat untuk mengukur suatu perlakuan atau tindakan keperawatan terhadap pasien. Dimana evaluasi ini meliputi evaluasi formatif / evaluasi proses yang dilihat dari setiap selesai melakukan implementasi yang dibuat setiap hari sedangkan evaluasi sumatif / evaluasi hasil dibuat sesuai dengan tujuan yang dibuat mengacu pada kriteria hasil yang diharapkan.<br />
Evaluasi :<br />
a. Suhu tubuh dalam batas normal.<br />
b. Intake dan out put kembali normal / seimbang.<br />
c. Pemenuhan nutrisi yang adekuat.<br />
d. Perdarahan tidak terjadi / teratasi.<br />
e. Pengetahuan keluarga bertambah.<br />
f. Shock hopovolemik teratasi</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yusniraharjo.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yusniraharjo.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yusniraharjo.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yusniraharjo.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yusniraharjo.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yusniraharjo.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yusniraharjo.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yusniraharjo.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yusniraharjo.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yusniraharjo.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yusniraharjo.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yusniraharjo.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yusniraharjo.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yusniraharjo.wordpress.com/67/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusniraharjo.wordpress.com&amp;blog=7440325&amp;post=67&amp;subd=yusniraharjo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yusniraharjo.wordpress.com/2009/06/01/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengan-dhf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9f3bc14133df71eef8a5cf6bf225199c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yusni raharjo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN MENARIK DIRI</title>
		<link>http://yusniraharjo.wordpress.com/2009/05/27/asuhan-keperawatan-klien-dengan-menarik-diri/</link>
		<comments>http://yusniraharjo.wordpress.com/2009/05/27/asuhan-keperawatan-klien-dengan-menarik-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 May 2009 03:49:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yusniraharjo</dc:creator>
				<category><![CDATA[SCIENCE OF NURSING]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yusniraharjo.wordpress.com/2009/05/27/asuhan-keperawatan-klien-dengan-menarik-diri/</guid>
		<description><![CDATA[ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN ISOLASI SOSIAL : MENARIK DIRI I. KONSEP DASAR Isolasi adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak ( Carpenito, 1998 ) Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusniraharjo.wordpress.com&amp;blog=7440325&amp;post=61&amp;subd=yusniraharjo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN<br />
GANGGUAN ISOLASI SOSIAL : MENARIK DIRI</p>
<p>I. KONSEP DASAR</p>
<p>Isolasi adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak ( Carpenito, 1998 )<br />
Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam (Towsend,1998)<br />
Seseorang dengan perilaku menarik diri akan menghindari interaksi dengan orang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan, pikiran dan prestasi atau kegagalan. Ia mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain, yang dimanivestasikan dengan sikap memisahkan diri, tidak ada perhatian dan tidak sanggup membagi pengalaman dengan orang lain (DepKes, 1998).<br />
II. FAKTOR PREDISPOSISI DAN PRESIPITASI<br />
Faktor predisposisi terjadinya perilaku menarik diri adalah kegagalan perkembangan yang dapat mengakibatkan individu tidak percaya diri, tidak percaya orang lain, ragu takut salah, putus asa terhadap hubungan dengan orang lain, menghindar dari orang lain, tidak mampu merumuskan keinginan dan meresa tertekan.<br />
Sedangkan faktor presipitasi dari faktor sosio-cultural karena menurunnya stabilitas keluarga dan berpisah karena meninggal dan fakto psikologis seperti berpisah dengan orang yang terdekat atau kegagalan orang lain untuk bergantung, merasa tidak berarti dalam keluarga sehingga menyebabkan klien berespons menghindar dengan menarik diri dari lingkungan (Stuart and sundeen, 1995).</p>
<p>III. TANDA DAN GEJALA<br />
Observasi yang dilakukan pada klien akan ditemukan (data objektif) :<br />
1. Apatis, ekspresi, afek tumpul.<br />
2. Menghindar dari orang lain (menyendiri) klien tampak memisahkan diri dari orang lain.<br />
3. Komunikasi kurang atau tidak ada. Klien tidak tampak bercakap-cakap dengan klien lain atau perawat.<br />
4. Tidak ada kontak mata, klien lebih sering menunduk.<br />
5. Berdiam diri di kamar/tempat berpisah – klien kurang mobilitasnya.<br />
6. Menolak hubungan dengan orang lain – klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-cakap.<br />
7. Tidak melakukan kegiatan sehari-hari, artinya perawatan diri dan kegiatan rumah tangga sehari-hari tidak dilakukan.<br />
8. Posisi janin pada saat tidur.<br />
Data subjektif sukar didapat jika klien menolak berkomunikasi, beberapa data subjektif adalah menjawab dengan singkat kata-kata “tidak”, “ya”, “tidak tahu”.<br />
IV. KAREKTERISTIK PERILAKU</p>
<p>• Gangguan pola makan : tidak nafsu makan atau makan berlebihan.<br />
• Berat badan menurun atau meningkat secara drastis.<br />
• Kemunduran secara fisik.<br />
• Tidur berlebihan.<br />
• Tinggal di tempat tidur dalam waktu yang lama.<br />
• Banyak tidur siang.<br />
• Kurang bergairah.<br />
• Tidak memperdulikan lingkungan.<br />
• Kegiatan menurun.<br />
• Immobilisasai.<br />
• Mondar-mandir (sikap mematung, melakukan gerakan berulang).<br />
• Keinginan seksual menurun.</p>
<p>KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN ISOLASI SOSIAL ; MENARIK DIRI.</p>
<p>I. Deskripsi<br />
Tanggapan atau deskripsi tentang isolasi yaitu suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam (towsend, 1998).<br />
Seseorang dengan perilaku menarik diri akan menghindari interaksi dengan orang lain.<br />
II. Pengkajian<br />
Pengelompokan data pada pengkajian kesehatan jiwa berupa faktor presipitasi, penilaian stressor , suberkoping yang dimiliki klien. Setiap melakukan pengajian ,tulis tempat klien dirawat da tanggal dirawat isi pengkajian meliputi :<br />
a. Identitas Klien<br />
Meliputi nama klien , umur , jenis kelamin , status perkawinan, agama, tangggal MRS , informan, tangggal pengkajian, No Rumah klien dan alamat klien.<br />
b. Keluhan Utama<br />
Keluhan biasanya berupa menyediri (menghindar dari orang lain) komunikasi kurang atau tidak ada , berdiam diri dikamar ,menolak interaksi dengan orang lain , tidak melakukan kegiatan sehari – hari , dependen.<br />
c. Faktor predisposisi<br />
kehilangan , perpisahan , penolakan orang tua ,harapan orang tua yang tidak realistis ,kegagalan / frustasi berulang , tekanan dari kelompok sebaya; perubahan struktur sosial.<br />
Terjadi trauma yang tiba tiba misalnya harus dioperasi , kecelakaan dicerai suami , putus sekolah ,PHK, perasaan malu karena sesuatu yang terjadi ( korban perkosaan , tituduh kkn, dipenjara tiba – tiba) perlakuan orang lain yang tidak menghargai klien/ perasaan negatif terhadap diri sendiri yang berlangsung lama.<br />
d. Aspek fisik / biologis<br />
Hasil pengukuran tada vital (TD, Nadi, suhu, Pernapasan , TB, BB) dan keluhafisik yang dialami oleh klien.<br />
e. Asfek Psikososial<br />
1. Genogram yang menggambarkan tiga generasi<br />
2. Konsep diri<br />
a) citra tubuh :<br />
Menolak melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah atau tidak menerima perubahan tubuh yang telah terjadi atau yang akan terjadi.<br />
Menolak penjelasan perubahan tubuh , persepsi negatip tentang tubuh .<br />
Preokupasi dengan bagia tubuh yang hilang , mengungkapkan keputus asaan, mengungkapkan ketakutan.<br />
b) Identitas diri<br />
Ketidak pastian memandang diri , sukar menetapkan keinginan dan tidak mampu mengambil keputusan .</p>
<p>c) Peran<br />
Berubah atau berhenti fungsi peran yang disebabkan penyakit , proses menua , putus sekolah, PHK.<br />
d) Ideal diri<br />
Mengungkapkan keputus asaan karena penyakitnya : mengungkapkan keinginan yang terlalu tinggi.<br />
e) Harga diri<br />
Perasaan malu terhadap diri sendiri , rasa bersalah terhadap diri sendiri , gangguan hubungan sosial , merendahkan martabat , mencederai diri, dan kurang percaya diri.<br />
3. Klien mempunyai gangguan / hambatan dalam melakukan hubunga sosialdengan orang lain terdekat dalam kehidupan, kelempok yang diikuti dalam masyarakat.<br />
4. kenyakinan klien terhadap tuhan dan kegiatan untuk ibadah ( spritual)<br />
f. Status Mental<br />
Kontak mata klien kurang /tidak dapat mepertahankan kontak mata , kurang dapat memulai pembicaraan , klien suka menyendiri dan kurang mampu berhubungan denga orang lain , Adanya perasaan keputusasaan dan kurang berharga dalam hidup.<br />
g. Kebutuhan persiapan pulang.<br />
1. Klien mampu menyiapkan dan membersihkan alat makan<br />
2. Klien mampu BAB dan BAK, menggunakan dan membersihkan WC, membersikan dan merapikan pakaian.<br />
3. Pada observasi mandi dan cara berpakaian klien terlihat rapi<br />
4. Klien dapat melakukan istirahat dan tidur , dapat beraktivitas didalam dan diluar rumah<br />
5). Klien dapat menjalankan program pengobatan dengan benar.<br />
H. Mekanisme Koping<br />
Klien apabila mendapat masalah takut atau tidak mau menceritakan nya pada orang orang lain( lebih sering menggunakan koping menarik diri)<br />
I. Asfek Medik<br />
Terapi yang diterima klien bisa berupa therapy farmakologi ECT, Psikomotor,therapy okopasional, TAK , dan rehabilitas.<br />
III. Diagnosa Keperawatan<br />
Diagnosa Keperawatan adalah identifikasi atau penilaian pola respons baik aktual maupun potensial (Stuart and Sundeen, 1995)<br />
Masalah keperawatan yang sering muncul yang dapat disimpulkan dari pengkajian adalah sebagai berikut :<br />
*. Isolasi sosial : menarik diri<br />
*. Gangguan konsep diri: harga diri rendah<br />
*. Resiko perubahan sensori persepsi<br />
*. Koping individu yang efektif sampai dengan ketergantungan pada orang lain .<br />
*. Gangguan komunikasi verbal, kurang komunikasi verbal.<br />
*. Intoleransi aktifitas.<br />
*. Kekerasan resiko tinggi.</p>
<p>IV. Pohon Masalah</p>
<p>Diagnosa Keperawatan<br />
1. Resiko perubahan sensori persepsi berhubungan dengan menarik diri.<br />
2. Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah<br />
3. Gangguan harga diri : harga diri rendah berhubungan dengan tidak efektifnya koping individu : koping defensif.</p>
<p>V. Tindakan keperawatan<br />
Tindakan keperawatan dalam asuhan keperawatan jiwa berbeda dengan tindakan keperawatan untuk klien dengan penyakit fisik di RSU dalam perawatan kesehatan jiwa. Perawat melakukan tindakan yang bertujuan untuk mengatasi penyebab dari masalah dan daftar masalah diatas dapat diambil salah satu. Contoh masalah keperawatan yaitu : resiko perubahan sensori persepsi berhubungan dengan isolasi sosial : menarik diri.<br />
VI. Rencana Intervensi<br />
Rencana tindakan keperawatan terdiri 3 asfek utama yaitu :<br />
a. tujuan umum<br />
berfokus pada penyelesaian permasalahan dari diagnosa. Tujuan umum dapat dicapai jika serangkaia tujuan khusus dapat dicapai.<br />
b. tujuan khusus<br />
berfokus pada penyelesaian etiologi dari diagnosa. Tujuan khusus merupakan rumusan kemampuan klien yang perlu dicapai atau dimiliki klien .umumnya kemampuan pada tujuan khusus dapat dibagi menjadi 3 aspek (stuart &amp; sundeen ,1995) yaitu : kemampuan kognitif yang diperlukan untuk menyelesaikan etiologi dari diagnosa keperawatan ,kemampuan psikomotor yang diperlukan agar etiologi dapat selesai dan kemampuan afektif yang perlu dimiliki agar klien percaya akan kemampuan menyelesaiakan masalah.<br />
c. Rencana tindakan keperawatan<br />
Tindakan keperawatan merupakan serangkaian tindakan yang dapat mencapai tujuan khusus. tindakan keperawatan menggambarkan tindakan keperawatan mandiri, kerjasama dengan klien, keluarga, kelompok dan kolaborasi dengan tim kesehatan jiwa lainnya.<br />
VII. Kriteria Evaluasi keperawatan<br />
Kriteria evaluasi dibuat berdasarkan pada tujuan khusus yang terdiri dari beberapa tujuan , masing tujuan tersebut ada kriteria evaluasinya .</p>
<p>Daftar Pustaka</p>
<p>Carpenito, lynda Juall. 1998. Buku saku buku kedokteran EGC : jakarta.</p>
<p>Keliat, B.A. 1999. Proses keperawatan kesehatan jiwa, penerbit buku kedokteran EGC : diagnosa keperawatan , Edisi 6, penerbit Jakarta.</p>
<p>Short, G.W dan Sandra, J. Sunden. 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa, Edisi 3, penerbit buku kedokteran EGC: Jakarta.</p>
<p>Towsend, Mary C. 1998. Buku saku Diagnosa keperawatan psikiatri untuk pembuatan rencana keperawatan, Edisi 3, Penerbit buku kedokteran EGC: Jakarta.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;, 1998. Buku Standart keperawatan Kesehatan Jiwa dan penerapan asuhan keperawatan pada kasus di Rumah Sakit Ketergantungan obat, Direktorat kesehatan jiwa Direktorat Jenderal Pelayanan medik, Dep-kes RI, Jakarta.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yusniraharjo.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yusniraharjo.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yusniraharjo.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yusniraharjo.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yusniraharjo.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yusniraharjo.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yusniraharjo.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yusniraharjo.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yusniraharjo.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yusniraharjo.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yusniraharjo.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yusniraharjo.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yusniraharjo.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yusniraharjo.wordpress.com/61/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusniraharjo.wordpress.com&amp;blog=7440325&amp;post=61&amp;subd=yusniraharjo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yusniraharjo.wordpress.com/2009/05/27/asuhan-keperawatan-klien-dengan-menarik-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9f3bc14133df71eef8a5cf6bf225199c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yusni raharjo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI BERAT LAHIR RENDAH</title>
		<link>http://yusniraharjo.wordpress.com/2009/05/04/asuhan-keperawatan-pada-bayi-berat-lahir-rendah/</link>
		<comments>http://yusniraharjo.wordpress.com/2009/05/04/asuhan-keperawatan-pada-bayi-berat-lahir-rendah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 May 2009 06:11:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yusniraharjo</dc:creator>
				<category><![CDATA[SCIENCE OF NURSING]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yusniraharjo.wordpress.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[DEFINISI Bayi berat badan lahir rendah ( BBLR ) adalah bayi baru lahir yang berat badan lahirnya pada saat kelahiran kurang dari 2500 gram. Dahulu neonatus dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram atau sama dengan 2500 gram disebut prematur. Pada tahun 1961 oleh WHO semua bayi yang baru lahir dengan berat lahir kurang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusniraharjo.wordpress.com&amp;blog=7440325&amp;post=55&amp;subd=yusniraharjo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="post-comment-link"> </span></p>
<div class="post-body entry-content">
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman,serif;"><span style="font-size:100%;">DEFINISI</span></span></span></p>
<p>Bayi berat badan lahir rendah ( BBLR ) adalah bayi baru lahir yang berat badan lahirnya pada saat kelahiran kurang dari 2500 gram. Dahulu neonatus dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram atau sama dengan 2500 gram disebut prematur. Pada tahun 1961 oleh WHO semua bayi yang baru lahir dengan berat lahir kurang dari 2500 gram disebut Low Birth Weight Infants ( BBLR). <span class="fullpost">Berdasarkan pengertian di atas maka bayi dengan berat badan lahir rendah dapat dibagi menjadi 2 golongan:</span></p>
<p>1. Prematuritas murni.<br />
Bayi lahir dengan umur kehamilan kurang dari 37 minggu dan mempunyai berat badan sesuai dengan berat badan untuk masa kehamilan atau disebut Neonatus Kurang Bulan Sesuai Masa Kehamilan ( NKBSMK).</p>
<p>2. Dismaturitas.<br />
Bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa kehamilan, dismatur dapat terjadi dalam preterm, term, dan post term. Dismatur ini dapat juga: Neonatus Kurang Bulan &#8211; Kecil untuk Masa Kehamilan (NKB- KMK). Neonatus Cukup Bulan-Kecil Masa Kehamilan ( NCB-KMK ), Neonatus Lebih Bulan-Kecil Masa Kehamilan (NLB- KMK ).</p>
<p>ETIOLOGI</p>
<p>1. Faktor Ibu.</p>
<p>a. Penyakit<br />
Penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan misalnya: perdarahan antepartum, trauma fisik dan psikologis, DM, toksemia gravidarum, dan nefritis akut.</p>
<p>b. Usia ibu<br />
Angka kejadian prematuritas tertinggi ialah pada usia Angka kejadian prematuritas tertinggi ialah pada usia &lt; style=&#8221;font-weight: bold;&#8221;</p>
<p>PATOFISIOLOGI</p>
<p>Secara umum bayi BBLR ini berhubungan dengan usia kehamilan yang belum cukup bulan (prematur) disamping itu juga disebabkan dismaturitas. Artinya bayi lahir cukup bulan (usia kehamilan 38 minggu), tapi berat badan (BB) lahirnya lebih kecil ketimbang masa kehamilannya, yaitu tidak mencapai 2.500 gram. Biasanya hal ini terjadi karena adanya gangguan pertumbuhan bayi sewaktu dalam kandungan yang disebabkan oleh penyakit ibu seperti adanya kelainan plasenta, infeksi, hipertensi dan keadaan-keadaan lain yang menyebabkan suplai makanan ke bayi jadi berkurang.</p>
<p>Gizi yang baik diperlukan seorang ibu hamil agar pertumbuhan janin tidak mengalami hambatan, dan selanjutnya akan melahirkan bayi dengan berat normal. Dengan kondisi kesehatan yang baik, system reproduksi normal, tidak menderita sakit, dan tidak ada gangguan gizi pada masa pra hamil maupun saat hamil, ibu akan melahirkan bayi lebih besar dan lebih sehat daripada ibu dengan kondisi kehamilan yang sebaliknya. Ibu dengan kondisi kurang gizi kronis pada masa hamil sering melahirkan bayi BBLR, vitalitas yang rendah dan kematian yang tinggi, terlebih lagi bila ibu menderita anemia.</p>
<p>Anemia dapat didefinisikan sebagai kondisi dengan kadar Hb berada di bawah normal. Anemia defisiensi besi merupakan salah satu gangguan yang paling sering terjadi selama kehamilan. Ibu hamil umumnya mengalami deplesi besi sehingga hanya memberi sedikit besi kepada janin yang dibutuhkan untuk metabolisme besi yang normal. Selanjutnya mereka akan menjadi anemia pada saat kadar hemoglobin ibu turun sampai di bawah 11 gr/dl selama trimester III. Kekurangan zat besi dapat menimbulkan gangguan atau hambatan pada pertumbuhan janin baik sel tubuh maupun sel otak. Anemia gizi dapat mengakibatkan kematian janin didalam kandungan, abortus, cacat bawaan, BBLR, anemia pada bayi yang dilahirkan, hal ini menyebabkan morbiditas dan mortalitas ibu dan kematian perinatal secara bermakna lebih tinggi. Pada ibu hamil yang menderita anemia berat dapat meningkatkan resiko morbiditas maupun mortalitas ibu dan bayi, kemungkinan melahirkan bayi BBLR dan prematur juga lebih besar.</p>
<p>MANIFESTASI KLINIS</p>
<p>Fisik.<br />
- bayi kecil<br />
- pergerakan kurang dan masih lemah<br />
- kepala lebih besar dari pada badan<br />
- berat badan &lt; style=&#8221;font-weight: bold;&#8221;&gt;KOMPLIKASI</p>
<p>1. Sindroma distress respiratori idiopatik</p>
<p>Terjadi pada 10% bayi kurang bulan. Nampak konsolidasi paru progresif akibat kurangnya surfaktan yang menurunkan tegangan permukaan di alveoli dan mencegah kolaps. Pada waktu atau segera setelah lahir bayi akan mengalami :</p>
<p>a) rintihan waktu inspirasi<br />
b) napas cuping hidung<br />
c) kecepatan respirasi leih dari 70/ menit<br />
d) tarikan waktu inspirasi pada sternum ( tulang dada )</p>
<p>Nampak gambaran sinar- X dada yang khas bronkogrm udara dan pemeriksaan gas darah menunjukkan :<br />
a) kadar oksigen arteri menurun<br />
b) konsentrasi CO2 meningkat<br />
c) asidosis metabolic</p>
<p>Pengobatan dengan oksigen yang dilembabkan, antibiotika, bikarbonas intravena dan makanan intravena. Mungkin diperlukan tekanan jalan positif berkelanjutan menggunakan pipa endotrakea. Akhirnya dibutuhkan pernapasan buatan bila timbul gagal napas dengan pernapasan tekanan positif berkelanjutan.</p>
<p>2. Takipnea selintas pada bayi baru lahir</p>
<p>Paru sebagian bayi kurang bulan dan bahkan bayi cukup bulan teteap edematous untuk beberapa jam setelah lahir dan menyebabkan takipnea. Keadaan ini tidak berbahaya, biasanya tidak akan menyebabkan tanda- tanda distress respirasi lain dan membaik kembali 12-24 jam setelah lahir. Perdarahan intraventrikular terjadi pada bayi kurang bulan yang biasanya lahir normal. Perdarahan intraventrikular dihubungkan dengan sindroma distress respiratori idiopatik dan nampaknya berhubungan dengan hipoksia pada sindroma distress respirasi idiopatik. Bayi lemas dan mengalami serangan apnea.</p>
<p>3. Fibroplasias retrolental</p>
<p>Oksigen konsentrasi tinggi pada daerah arteri berakibat pertumbuhan jaringan serat atau fibrosa di belakang lensa dan pelepasan retina yang menyebabkan kebutaan.hal ini dapat dihindari dengan menggunakan konsentrasi oksigen di bawah 40% ( kecuali bayi yang membutuhkan lebih dari 40 % ). Sebagian besar incubator mempunyai control untuk mencegah konsentrasi oksigen naik melebihi 40% tetapi lebih baik menggunakan pemantau oksigan perkutan yang saat ini mudah didapat untuk memantau tekanan oksigen arteri bayi.</p>
<p>4. Serangan apnea</p>
<p>Serangan apnea disebabkan ketidakmampuan fungsional pusat pernapasan atau ada hubungannya dengan hipoglikemia atau perdarahan intracranial. Irama pernapasan bayi tak teratur dan diselingi periode apnea. Dengan menggunakan pemantau apneadan memberikan oksigen pada bayi dengan pemompaan segera bila timbul apnea sebagian besar bayi akan dapat bertahan dai serangan apnea, meskipun apnea ini mungkin berlanjut selama beberapa hari atau minggu. Perangsang pernapasan seperti aminofilin mungkin bermanfaat.</p>
<p>5. Enterokolitis nekrotik</p>
<p>Keadaan ini timbul terutama pada bayi kurang bulan dengan riwayat asfiksia. Dapat juga terjadi setelah transfuse tukar. Gejalanya : kembung, muntah, keluar darah dari rectum dan berak cair, syok usus dan usus mungkin mengalami perforasi. Pengobatan diberikan pengobatan gentamisin intravena, kanamisin oral. Hentikan minuman oral dan berikan pemberian makanan intravena. Mungkin diperlukan pembedahan</p>
<p>PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK</p>
<p>1. Jumlah sel darah putih : 18.000/mm3, netrofil meningkat sampai 23.000-24.000/mm3, hari pertama setelah lahir (menurun bila ada sepsis ).<br />
2. Hematokrit (Ht) : 43% &#8211; 61% (peningkatan sampai 65 % atau lebih menandakan polisitemia, penurunan kadar menunjukkan anemia atau hemoragic prenatal /perinatal).<br />
3. Hemoglobin (Hb) : 15-20 gr/dl (kadar lebih rendah berhubungan dengan anemia atau hemolisis berlebihan).<br />
4. Bilirubin total : 6 mg/dl pada hari pertama kehidupan, 8 mg/dl 1-2 hari, dan 12 mg/dl pada 3-5 hari.<br />
5. Destrosix : tetes glukosa pertama selama 4-6 jam pertama setelah kelahiran rata-rata 40-50 mg/dl meningkat 60-70 mg/dl pada hari ketiga.<br />
6. Pemantauan elektrolit ( Na, K, CI) : biasanya dalam batas normal pada awalnya.<br />
7. Pemeriksaan Analisa gas darah.</p>
<p>PEMERIKSAAN PENUNJANG</p>
<p>1. Pemeriksaan pertumbuhan dan perkembangan janin intra uterina serta menemukan gangguan pertumbuhan misalnya dengan pemeriksaan ultra sonografi.<br />
2. Memeriksa kadar gula darah (true glukose) dengan dextrostix atau laboratorium kalau hipoglikemia perlu diatasi.<br />
3. Pemeriksaan hematokrit dan mengobati hiperviskositasnya.<br />
4. Bayi membutuhkan lebih banyak kalori dibandingkan dengan bayi SMK.<br />
5. Melakukan tracheal-washing pada bayi yang diduga akan menderita aspirasi mekonium.<br />
6. Sebaiknya setiap jam dihitung frekwensi pernafasan dan bila frekwensi lebih dari 60x/ menit dibuat foto thorax.</p>
<p>PENATALAKSANAAN</p>
<p>Mengingat belum sempurnanya kerja alat-alat tubuh yang perlu untuk pertumbuhan dan perkembangan serta penyesuaian diri dengan lingkungan hidup di luar uterus maka perlu diperhatikan pengaturan suhu lingkungan, pemberian makanan dan bila perlu oksigen, mencegah infeksi serta mencegah kekurangan vitamin dan zat besi.</p>
<p>1. Pengaturan suhu badan bayi prematuritas/ BBLR<br />
Bayi prematuritas dengan cepat akan kehilangan panas badan dan menjadi hipotermia, karena pusat pengaturan panas badan belum berfungsi dengan baik, metabolismenya rendah dan permukaan badan relatif luas oleh karena itu bayi prematuritas harus dirawat di dalam inkubator sehingga panas badannya mendekati dalam rahim. Bila bayi dirawat dalam inkubator maka suhu bayi dengan berat badan , 2 kg adalah 35 derajat celcius dan untuk bayi dengan berat badan 2-2,5 kg adalah 33-34 derajat celcius. Bila inkubator tidak ada bayi dapat dibungkus dengan kain dan disampingnya ditaruh botol yang berisi air panas, sehingga panas badannya dapat dipertahankan.</p>
<p>2. Nutrisi<br />
Alat pencernaan bayi prematur masih belum sempurna, lambung kecil, enzim pencernaan belum matang, sedangkan kebutuhan protein 3-5 gr/kg BB dan kalori 110 kal/kg BB sehingga pertumbuhannya dapat meningkat. Pemberian minum bayi sekitar 3 jam setelah lahir dan didahului dengan menghisap cairan lambung. Refleks menghisap masih lemah,sehingga pemberian minum sebaiknya sedikit demi sedikit, tetapi frekwensi yang lebih sering. ASI merupakan makanan yang paling utama,sehingga ASI lah yang paling dahulu diberikan. Bila faktor menghisapnya kurang maka ASI dapat diperas dan diminumkan dengan sendok perlahan-lahan atau dengan memasang sonde menuju lambung. Permulaan cairan diberikan sekitar 50-60 cc/kg BB/ hari dan terus dinaikkan sampai mencapai sekitar 200 cckg BB/ hari.</p>
<p>3. Menghindari infeksi<br />
Bayi prematuritas mudah sekali terkena infeksi, karena daya tahan tubuh yang masih lemah,kemampuan leukosit masih kurang dan pembentukan anti bodi belum sempurna. Oleh karena itu, upaya preventif sudah dilakukan sejak pengawasan antenatal sehingga tidak terjadi persalinan prematuritas (BBLR). Dengan demikian perawatan dan pengawasan bayi prematuritas secara khusus dan terisolasi dengan baik.</p>
<p>PENGKAJIAN</p>
<p>1. Aktivitas/ istirahat<br />
Bayi sadar mungkin 2-3 jam beberapa hari pertama tidur sehari rata-rata 20 jam.</p>
<p>2. Pernafasan<br />
Takipnea sementara dapat dilihat, khususnya setelah kelahiran cesaria atau persentasi bokong. Pola nafas diafragmatik dan abdominal dengan gerakan sinkron dari dada dan abdomen, perhatikan adanya sekret yang mengganggu pernafasan, mengorok, pernafasan cuping hidung.</p>
<p>3. Makanan/ cairan<br />
Berat badan rata-rata 2500 – 4000 gram ; kurang dari 2500 gr menunjukkan kecil untuk usia gestasi, pemberian nutrisi harus diperhatikan. Bayi dengan dehidrasi harus diberi infus. Beri minum dengan tetes ASI/ sonde karena refleks menelan BBLR belum sempurna,kebutuhan cairan untuk bayi baru lahir 120 &#8211; 150m1/kg BB/ hari.</p>
<p>4. Berat badan<br />
Kurang dari 2500 gram</p>
<p>5. Suhu<br />
BBLR mudah mengalami hipotermia, oleh sebab itu suhu tubuhnya harus dipertahankan.</p>
<p>6. Integumen<br />
Pada BBLR mempunyai adanya tanda-tanda kulit tampak mengkilat dan kering.</p>
<p>DIAGNOSA KEPERAWATAN</p>
<p>Tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan maturitas pusat pernafasan, keterbatasan perkembangan otot, penurunan energi/kelelahan, ketidakseimbangan metabolik.</p>
<p>INTERVENSI KEPERAWATAN</p>
<p>1. Tidak Efektifnya Termoregulasi<br />
Pada bayi lahir dengan berat badan bayi rendah dapat terjadi termoregulasi yang tidak efektif hal ini dapat disebabkan karena jaringan lemak pada subkutan yang kurang, sistem termoregulasi yang imatur, masalah tersebut dapat dilakukan tindakan keperawatan dengan cara mempertahankan temperatur pada aksila (36,5-37,2 derajat Celsius) dengan cara mengkaji temperatur pada aksila tiap 1-4 jam, mempertahankan suhu lingkungan yang netral, mempertahankan suhu bayi ke dalam inkubator, mempertahankan kestabilan kebutuhan oksigen dengan mengkaji status respiratori.</p>
<p>2. Intoleransi Aktivitas<br />
Intoleransi aktivitas ini dapat disebabkan karena prematuritas serta sistem susunan syaraf yang imatur, masalah ini dapat diatasi dengan cara mempertahankan kestabilan oksigen dengan melakukan monitoring pada nadi, mengkondisikan lingkungan yang nyaman, menyediakan monitoring jantung dan paru, mengurangi stimulasi dengan mengkaji selama aktivitas.</p>
<p>3. Resiko Tinggi Gangguan Integritas Kulit<br />
Masalah ini dapat disebabkan karena adanya faktor mekanik, adanya imaturitas pada kulit dan adanya imobilitas, masalah ini dapat dilakukan tindakan keperawatan dengan mengkaji kulit dan membran mukosa tiap 2-4 jam, mengatur posisi tiap 2-4 jam, menghindari penggunaan lotion, krem atau powder yang berlebih.</p>
<p>4. Resiko Tinggi Infeksi<br />
Resiko tinggi infeksi dapat disebabkan karena sistem imunitas yang masih imatur atau prosedur invasif, masalah ini dapat diatasi dengan mengkaji tanda vital tiap 1-2 jam, mempertahankan lingkungan dalam suhu normal, memperthankan prinsip aseptik sebelum kontak dengan pasien.</p>
<p>Cara Perawatan Bayi dalam Inkubator</p>
<p>Merupakan cara memberikan perawatan pada bayi dengan dimasukkan ke dalam alat yang berfungsi membantu terciptanya suatu lingkungan yang cukup dengan suhu yang normal. Dalam pelaksanaan perawatan di dalam inkubator terdapat dua cara yaitu dengan cara tertutup dan terbuka.</p>
<p>Inkubator tertutup:<br />
1. Inkubator harus selalu tertutup dan hanya dibuka dalam keadaan tertentu seperti apnea, dan apabila membuka incubator usahakan suhu bayi tetap hangat dan oksigen harus selalu disediakan.<br />
2. Tindakan perawatan dan pengobatan diberikan melalui hidung.<br />
3. Bayi harus keadaan telanjang (tidak memakai pakaian) untuk memudahkan observasi.<br />
4. Pengaturan panas disesuaikan dengan berat badan dan kondisi tubuh.<br />
5. Pengaturan oksigen selalu diobservasi.<br />
6. Inkubator harus ditempatkan pada ruangan yang hangat kira-kira dengan suhu 27 derajat celcius.</p>
<p>Inkubator terbuka:<br />
1. Pemberian inkubator dilakukan dalam keadaan terbuka saat pemberian perawatan pada bayi.<br />
2. Menggunakan lampu pemanas untuk memberikan keseimbangan suhu normal dan kehangatan.<br />
3. Membungkus dengan selimut hangat.<br />
4. Dinding keranjang ditutup dengan kain atau yang lain untuk mencegah aliran udara.<br />
5. Kepala bayi harus ditutup karena banyak panas yang hilang melalui kepala.<br />
6. Pengaturan suhu inkubator disesuaikan dengan berat badan sesuai dengan ketentuan di bawah ini.</p>
<p>KESIMPULAN</p>
<p>Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi baru lahir yang berat badan lahirnya pada saat kelahiran kurang dari 2500gr. BUR dapat dibagi 2 golongan yaitu prematuritas murni dan dismaturitas. Bayi yang lahir dengan berat badan lahir rendah sering mengalami masalah sukar bernafas, sukar dalam pemberian minum ,ikterus berat dan infeksi.Bayi juga rentan mengalami hipotermi jika tidak dalam incubator. Bayi ini memerlukan perawatan khusus.<br />
Bila fasilitas tempat bayi dilahirkan tidak memadai untuk perawatan bayi, maka bayi harus segera dirujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas khusus untuk bayi yang lahir dengan berat badan rendah. Selama perjalanan ke tempat rujukan pastikan bahwa bayi terjaga tetap hangat. Bungkus bayi dengan kain lembut,kering,selimuti dan pakai topi untuk menghindari kehilangan panas. Prognosis BBLR akan baik bila ditangani dengan cepat dan perawatan yang intensif.</p>
<p>Referensi</p>
<p>1. Anonim. 2006. Bayi Berat Lahir Rendah (On-Line). Terdapat pada : http://www.keluargasehat.com/keluarga-ibuisi<br />
2. Ennis, Sharon Axton. 2003. Pediatric Nursing Care Plans. 2nd Edition. Pearson Education. New Jersey<br />
3. Faras Handayani. 2006. Berat Badan Lahir Rendah Tak Selalu Dirawat Di Rs (On-Line). Terdapat pada : http://www.tabloid-nakita.com/artikel<br />
4. Hidayat, Alimul A.2005. Pengantar ilmu keperawatan anak 1. Penerbit Salemba Medica: Jakarta<br />
5. Nelson. 1999. Ilmu Kesehatan Anak I. EGC. Jakarta<br />
6. Sitohang, Nur Asnah. 2004. Asuhan Keperawatan Pada Bayi Berat Badan Lahir Rendah. USU Repository©2006<br />
7. Sowden, Betz Cicilia. 2002. Keperawatan Pediatric. EGC. Jakarta<br />
8. Speirs, al.1993. Ilmu Kesehatan anak Untuk Perawat. IKIP Semarang Press.Semarang<br />
9. Whaley&#8217;s and Wong. 1996. Clinic Manual of Pediatric Nursing. 4th Edition. Mosby Company<br />
10. Zulhaida Lubis. 2003. Status Gizi Ibu Hamil Serta Pengaruhnya Terhadap Bayi Yang Dilahirkan (On-Line). Terdapat pada : http://tumoutou.net/702_07134/zulhaida_lubis.htm</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;text-align:justify;">DEFINISI</p>
<p>Bayi berat badan lahir rendah ( BBLR ) adalah bayi baru lahir yang berat badan lahirnya pada saat kelahiran kurang dari 2500 gram. Dahulu neonatus dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram atau sama dengan 2500 gram disebut prematur. Pada tahun 1961 oleh WHO semua bayi yang baru lahir dengan berat lahir kurang dari 2500 gram disebut Low Birth Weight Infants ( BBLR). Berdasarkan pengertian di atas maka bayi dengan berat badan lahir rendah dapat dibagi menjadi 2 golongan:</p>
<p>1. Prematuritas murni.<br />
Bayi lahir dengan umur kehamilan kurang dari 37 minggu dan mempunyai berat badan sesuai dengan berat badan untuk masa kehamilan atau disebut Neonatus Kurang Bulan Sesuai Masa Kehamilan ( NKBSMK).</p>
<p>2. Dismaturitas.<br />
Bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa kehamilan, dismatur dapat terjadi dalam preterm, term, dan post term. Dismatur ini dapat juga: Neonatus Kurang Bulan &#8211; Kecil untuk Masa Kehamilan (NKB- KMK). Neonatus Cukup Bulan-Kecil Masa Kehamilan ( NCB-KMK ), Neonatus Lebih Bulan-Kecil Masa Kehamilan (NLB- KMK ).<br />
ETIOLOGI</p>
<p>1. Faktor Ibu.</p>
<p>a. Penyakit<br />
Penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan misalnya: perdarahan antepartum, trauma fisik dan psikologis, DM, toksemia gravidarum, dan nefritis akut.</p>
<p>b. Usia ibu<br />
Angka kejadian prematuritas tertinggi ialah pada usia Angka kejadian prematuritas tertinggi ialah pada usia &lt; style=&#8221;font-weight: bold;&#8221;&gt;PATOFISIOLOGI</p>
<p>Secara umum bayi BBLR ini berhubungan dengan usia kehamilan yang belum cukup bulan (prematur) disamping itu juga disebabkan dismaturitas. Artinya bayi lahir cukup bulan (usia kehamilan 38 minggu), tapi berat badan (BB) lahirnya lebih kecil ketimbang masa kehamilannya, yaitu tidak mencapai 2.500 gram. Biasanya hal ini terjadi karena adanya gangguan pertumbuhan bayi sewaktu dalam kandungan yang disebabkan oleh penyakit ibu seperti adanya kelainan plasenta, infeksi, hipertensi dan keadaan-keadaan lain yang menyebabkan suplai makanan ke bayi jadi berkurang.</p>
<p>Gizi yang baik diperlukan seorang ibu hamil agar pertumbuhan janin tidak mengalami hambatan, dan selanjutnya akan melahirkan bayi dengan berat normal. Dengan kondisi kesehatan yang baik, system reproduksi normal, tidak menderita sakit, dan tidak ada gangguan gizi pada masa pra hamil maupun saat hamil, ibu akan melahirkan bayi lebih besar dan lebih sehat daripada ibu dengan kondisi kehamilan yang sebaliknya. Ibu dengan kondisi kurang gizi kronis pada masa hamil sering melahirkan bayi BBLR, vitalitas yang rendah dan kematian yang tinggi, terlebih lagi bila ibu menderita anemia.</p>
<p>Anemia dapat didefinisikan sebagai kondisi dengan kadar Hb berada di bawah normal. Anemia defisiensi besi merupakan salah satu gangguan yang paling sering terjadi selama kehamilan. Ibu hamil umumnya mengalami deplesi besi sehingga hanya memberi sedikit besi kepada janin yang dibutuhkan untuk metabolisme besi yang normal. Selanjutnya mereka akan menjadi anemia pada saat kadar hemoglobin ibu turun sampai di bawah 11 gr/dl selama trimester III. Kekurangan zat besi dapat menimbulkan gangguan atau hambatan pada pertumbuhan janin baik sel tubuh maupun sel otak. Anemia gizi dapat mengakibatkan kematian janin didalam kandungan, abortus, cacat bawaan, BBLR, anemia pada bayi yang dilahirkan, hal ini menyebabkan morbiditas dan mortalitas ibu dan kematian perinatal secara bermakna lebih tinggi. Pada ibu hamil yang menderita anemia berat dapat meningkatkan resiko morbiditas maupun mortalitas ibu dan bayi, kemungkinan melahirkan bayi BBLR dan prematur juga lebih besar.</p>
<p>MANIFESTASI KLINIS</p>
<p>1. Fisik.<br />
- bayi kecil<br />
- pergerakan kurang dan masih lemah<br />
- kepala lebih besar dari pada badan<br />
- berat badan &lt; style=&#8221;font-weight: bold;&#8221;&gt;KOMPLIKASI</p>
<p>1. Sindroma distress respiratori idiopatik</p>
<p>Terjadi pada 10% bayi kurang bulan. Nampak konsolidasi paru progresif akibat kurangnya surfaktan yang menurunkan tegangan permukaan di alveoli dan mencegah kolaps. Pada waktu atau segera setelah lahir bayi akan mengalami :</p>
<p>a) rintihan waktu inspirasi<br />
b) napas cuping hidung<br />
c) kecepatan respirasi leih dari 70/ menit<br />
d) tarikan waktu inspirasi pada sternum ( tulang dada )</p>
<p>Nampak gambaran sinar- X dada yang khas bronkogrm udara dan pemeriksaan gas darah menunjukkan :<br />
a) kadar oksigen arteri menurun<br />
b) konsentrasi CO2 meningkat<br />
c) asidosis metabolic</p>
<p>Pengobatan dengan oksigen yang dilembabkan, antibiotika, bikarbonas intravena dan makanan intravena. Mungkin diperlukan tekanan jalan positif berkelanjutan menggunakan pipa endotrakea. Akhirnya dibutuhkan pernapasan buatan bila timbul gagal napas dengan pernapasan tekanan positif berkelanjutan.</p>
<p>2. Takipnea selintas pada bayi baru lahir</p>
<p>Paru sebagian bayi kurang bulan dan bahkan bayi cukup bulan teteap edematous untuk beberapa jam setelah lahir dan menyebabkan takipnea. Keadaan ini tidak berbahaya, biasanya tidak akan menyebabkan tanda- tanda distress respirasi lain dan membaik kembali 12-24 jam setelah lahir. Perdarahan intraventrikular terjadi pada bayi kurang bulan yang biasanya lahir normal. Perdarahan intraventrikular dihubungkan dengan sindroma distress respiratori idiopatik dan nampaknya berhubungan dengan hipoksia pada sindroma distress respirasi idiopatik. Bayi lemas dan mengalami serangan apnea.</p>
<p>3. Fibroplasias retrolental</p>
<p>Oksigen konsentrasi tinggi pada daerah arteri berakibat pertumbuhan jaringan serat atau fibrosa di belakang lensa dan pelepasan retina yang menyebabkan kebutaan.hal ini dapat dihindari dengan menggunakan konsentrasi oksigen di bawah 40% ( kecuali bayi yang membutuhkan lebih dari 40 % ). Sebagian besar incubator mempunyai control untuk mencegah konsentrasi oksigen naik melebihi 40% tetapi lebih baik menggunakan pemantau oksigan perkutan yang saat ini mudah didapat untuk memantau tekanan oksigen arteri bayi.</p>
<p>4. Serangan apnea</p>
<p>Serangan apnea disebabkan ketidakmampuan fungsional pusat pernapasan atau ada hubungannya dengan hipoglikemia atau perdarahan intracranial. Irama pernapasan bayi tak teratur dan diselingi periode apnea. Dengan menggunakan pemantau apneadan memberikan oksigen pada bayi dengan pemompaan segera bila timbul apnea sebagian besar bayi akan dapat bertahan dai serangan apnea, meskipun apnea ini mungkin berlanjut selama beberapa hari atau minggu. Perangsang pernapasan seperti aminofilin mungkin bermanfaat.</p>
<p>5. Enterokolitis nekrotik</p>
<p>Keadaan ini timbul terutama pada bayi kurang bulan dengan riwayat asfiksia. Dapat juga terjadi setelah transfuse tukar. Gejalanya : kembung, muntah, keluar darah dari rectum dan berak cair, syok usus dan usus mungkin mengalami perforasi. Pengobatan diberikan pengobatan gentamisin intravena, kanamisin oral. Hentikan minuman oral dan berikan pemberian makanan intravena. Mungkin diperlukan pembedahan</p>
<p>PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK</p>
<p>1. Jumlah sel darah putih : 18.000/mm3, netrofil meningkat sampai 23.000-24.000/mm3, hari pertama setelah lahir (menurun bila ada sepsis ).<br />
2. Hematokrit (Ht) : 43% &#8211; 61% (peningkatan sampai 65 % atau lebih menandakan polisitemia, penurunan kadar menunjukkan anemia atau hemoragic prenatal /perinatal).<br />
3. Hemoglobin (Hb) : 15-20 gr/dl (kadar lebih rendah berhubungan dengan anemia atau hemolisis berlebihan).<br />
4. Bilirubin total : 6 mg/dl pada hari pertama kehidupan, 8 mg/dl 1-2 hari, dan 12 mg/dl pada 3-5 hari.<br />
5. Destrosix : tetes glukosa pertama selama 4-6 jam pertama setelah kelahiran rata-rata 40-50 mg/dl meningkat 60-70 mg/dl pada hari ketiga.<br />
6. Pemantauan elektrolit ( Na, K, CI) : biasanya dalam batas normal pada awalnya.<br />
7. Pemeriksaan Analisa gas darah.</p>
<p>PEMERIKSAAN PENUNJANG</p>
<p>1. Pemeriksaan pertumbuhan dan perkembangan janin intra uterina serta menemukan gangguan pertumbuhan misalnya dengan pemeriksaan ultra sonografi.<br />
2. Memeriksa kadar gula darah (true glukose) dengan dextrostix atau laboratorium kalau hipoglikemia perlu diatasi.<br />
3. Pemeriksaan hematokrit dan mengobati hiperviskositasnya.<br />
4. Bayi membutuhkan lebih banyak kalori dibandingkan dengan bayi SMK.<br />
5. Melakukan tracheal-washing pada bayi yang diduga akan menderita aspirasi mekonium.<br />
6. Sebaiknya setiap jam dihitung frekwensi pernafasan dan bila frekwensi lebih dari 60x/ menit dibuat foto thorax.</p>
<p>PENATALAKSANAAN</p>
<p>Mengingat belum sempurnanya kerja alat-alat tubuh yang perlu untuk pertumbuhan dan perkembangan serta penyesuaian diri dengan lingkungan hidup di luar uterus maka perlu diperhatikan pengaturan suhu lingkungan, pemberian makanan dan bila perlu oksigen, mencegah infeksi serta mencegah kekurangan vitamin dan zat besi.</p>
<p>1. Pengaturan suhu badan bayi prematuritas/ BBLR<br />
Bayi prematuritas dengan cepat akan kehilangan panas badan dan menjadi hipotermia, karena pusat pengaturan panas badan belum berfungsi dengan baik, metabolismenya rendah dan permukaan badan relatif luas oleh karena itu bayi prematuritas harus dirawat di dalam inkubator sehingga panas badannya mendekati dalam rahim. Bila bayi dirawat dalam inkubator maka suhu bayi dengan berat badan , 2 kg adalah 35 derajat celcius dan untuk bayi dengan berat badan 2-2,5 kg adalah 33-34 derajat celcius. Bila inkubator tidak ada bayi dapat dibungkus dengan kain dan disampingnya ditaruh botol yang berisi air panas, sehingga panas badannya dapat dipertahankan.</p>
<p>2. Nutrisi<br />
Alat pencernaan bayi prematur masih belum sempurna, lambung kecil, enzim pencernaan belum matang, sedangkan kebutuhan protein 3-5 gr/kg BB dan kalori 110 kal/kg BB sehingga pertumbuhannya dapat meningkat. Pemberian minum bayi sekitar 3 jam setelah lahir dan didahului dengan menghisap cairan lambung. Refleks menghisap masih lemah,sehingga pemberian minum sebaiknya sedikit demi sedikit, tetapi frekwensi yang lebih sering. ASI merupakan makanan yang paling utama,sehingga ASI lah yang paling dahulu diberikan. Bila faktor menghisapnya kurang maka ASI dapat diperas dan diminumkan dengan sendok perlahan-lahan atau dengan memasang sonde menuju lambung. Permulaan cairan diberikan sekitar 50-60 cc/kg BB/ hari dan terus dinaikkan sampai mencapai sekitar 200 cckg BB/ hari.</p>
<p>3. Menghindari infeksi<br />
Bayi prematuritas mudah sekali terkena infeksi, karena daya tahan tubuh yang masih lemah,kemampuan leukosit masih kurang dan pembentukan anti bodi belum sempurna. Oleh karena itu, upaya preventif sudah dilakukan sejak pengawasan antenatal sehingga tidak terjadi persalinan prematuritas (BBLR). Dengan demikian perawatan dan pengawasan bayi prematuritas secara khusus dan terisolasi dengan baik.</p>
<p>PENGKAJIAN</p>
<p>1. Aktivitas/ istirahat<br />
Bayi sadar mungkin 2-3 jam beberapa hari pertama tidur sehari rata-rata 20 jam.</p>
<p>2. Pernafasan<br />
Takipnea sementara dapat dilihat, khususnya setelah kelahiran cesaria atau persentasi bokong. Pola nafas diafragmatik dan abdominal dengan gerakan sinkron dari dada dan abdomen, perhatikan adanya sekret yang mengganggu pernafasan, mengorok, pernafasan cuping hidung.</p>
<p>3. Makanan/ cairan<br />
Berat badan rata-rata 2500 – 4000 gram ; kurang dari 2500 gr menunjukkan kecil untuk usia gestasi, pemberian nutrisi harus diperhatikan. Bayi dengan dehidrasi harus diberi infus. Beri minum dengan tetes ASI/ sonde karena refleks menelan BBLR belum sempurna,kebutuhan cairan untuk bayi baru lahir 120 &#8211; 150m1/kg BB/ hari.</p>
<p>4. Berat badan<br />
Kurang dari 2500 gram</p>
<p>5. Suhu<br />
BBLR mudah mengalami hipotermia, oleh sebab itu suhu tubuhnya harus dipertahankan.</p>
<p>6. Integumen<br />
Pada BBLR mempunyai adanya tanda-tanda kulit tampak mengkilat dan kering.</p>
<p>DIAGNOSA KEPERAWATAN</p>
<p>Tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan maturitas pusat pernafasan, keterbatasan perkembangan otot, penurunan energi/kelelahan, ketidakseimbangan metabolik.</p>
<p>INTERVENSI KEPERAWATAN</p>
<p>1. Tidak Efektifnya Termoregulasi<br />
Pada bayi lahir dengan berat badan bayi rendah dapat terjadi termoregulasi yang tidak efektif hal ini dapat disebabkan karena jaringan lemak pada subkutan yang kurang, sistem termoregulasi yang imatur, masalah tersebut dapat dilakukan tindakan keperawatan dengan cara mempertahankan temperatur pada aksila (36,5-37,2 derajat Celsius) dengan cara mengkaji temperatur pada aksila tiap 1-4 jam, mempertahankan suhu lingkungan yang netral, mempertahankan suhu bayi ke dalam inkubator, mempertahankan kestabilan kebutuhan oksigen dengan mengkaji status respiratori.</p>
<p>2. Intoleransi Aktivitas<br />
Intoleransi aktivitas ini dapat disebabkan karena prematuritas serta sistem susunan syaraf yang imatur, masalah ini dapat diatasi dengan cara mempertahankan kestabilan oksigen dengan melakukan monitoring pada nadi, mengkondisikan lingkungan yang nyaman, menyediakan monitoring jantung dan paru, mengurangi stimulasi dengan mengkaji selama aktivitas.</p>
<p>3. Resiko Tinggi Gangguan Integritas Kulit<br />
Masalah ini dapat disebabkan karena adanya faktor mekanik, adanya imaturitas pada kulit dan adanya imobilitas, masalah ini dapat dilakukan tindakan keperawatan dengan mengkaji kulit dan membran mukosa tiap 2-4 jam, mengatur posisi tiap 2-4 jam, menghindari penggunaan lotion, krem atau powder yang berlebih.</p>
<p>4. Resiko Tinggi Infeksi<br />
Resiko tinggi infeksi dapat disebabkan karena sistem imunitas yang masih imatur atau prosedur invasif, masalah ini dapat diatasi dengan mengkaji tanda vital tiap 1-2 jam, mempertahankan lingkungan dalam suhu normal, memperthankan prinsip aseptik sebelum kontak dengan pasien.</p>
<p>Cara Perawatan Bayi dalam Inkubator</p>
<p>Merupakan cara memberikan perawatan pada bayi dengan dimasukkan ke dalam alat yang berfungsi membantu terciptanya suatu lingkungan yang cukup dengan suhu yang normal. Dalam pelaksanaan perawatan di dalam inkubator terdapat dua cara yaitu dengan cara tertutup dan terbuka.</p>
<p>Inkubator tertutup:<br />
1. Inkubator harus selalu tertutup dan hanya dibuka dalam keadaan tertentu seperti apnea, dan apabila membuka incubator usahakan suhu bayi tetap hangat dan oksigen harus selalu disediakan.<br />
2. Tindakan perawatan dan pengobatan diberikan melalui hidung.<br />
3. Bayi harus keadaan telanjang (tidak memakai pakaian) untuk memudahkan observasi.<br />
4. Pengaturan panas disesuaikan dengan berat badan dan kondisi tubuh.<br />
5. Pengaturan oksigen selalu diobservasi.<br />
6. Inkubator harus ditempatkan pada ruangan yang hangat kira-kira dengan suhu 27 derajat celcius.</p>
<p>Inkubator terbuka:<br />
1. Pemberian inkubator dilakukan dalam keadaan terbuka saat pemberian perawatan pada bayi.<br />
2. Menggunakan lampu pemanas untuk memberikan keseimbangan suhu normal dan kehangatan.<br />
3. Membungkus dengan selimut hangat.<br />
4. Dinding keranjang ditutup dengan kain atau yang lain untuk mencegah aliran udara.<br />
5. Kepala bayi harus ditutup karena banyak panas yang hilang melalui kepala.<br />
6. Pengaturan suhu inkubator disesuaikan dengan berat badan sesuai dengan ketentuan di bawah ini.</p>
<p>KESIMPULAN</p>
<p>Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi baru lahir yang berat badan lahirnya pada saat kelahiran kurang dari 2500gr. BUR dapat dibagi 2 golongan yaitu prematuritas murni dan dismaturitas. Bayi yang lahir dengan berat badan lahir rendah sering mengalami masalah sukar bernafas, sukar dalam pemberian minum ,ikterus berat dan infeksi.Bayi juga rentan mengalami hipotermi jika tidak dalam incubator. Bayi ini memerlukan perawatan khusus.<br />
Bila fasilitas tempat bayi dilahirkan tidak memadai untuk perawatan bayi, maka bayi harus segera dirujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas khusus untuk bayi yang lahir dengan berat badan rendah. Selama perjalanan ke tempat rujukan pastikan bahwa bayi terjaga tetap hangat. Bungkus bayi dengan kain lembut,kering,selimuti dan pakai topi untuk menghindari kehilangan panas. Prognosis BBLR akan baik bila ditangani dengan cepat dan perawatan yang intensif.</p>
<p>Referensi</p>
<p>1. Anonim. 2006. Bayi Berat Lahir Rendah (On-Line). Terdapat pada : http://www.keluargasehat.com/keluarga-ibuisi<br />
2. Ennis, Sharon Axton. 2003. Pediatric Nursing Care Plans. 2nd Edition. Pearson Education. New Jersey<br />
3. Faras Handayani. 2006. Berat Badan Lahir Rendah Tak Selalu Dirawat Di Rs (On-Line). Terdapat pada : http://www.tabloid-nakita.com/artikel<br />
4. Hidayat, Alimul A.2005. Pengantar ilmu keperawatan anak 1. Penerbit Salemba Medica: Jakarta<br />
5. Nelson. 1999. Ilmu Kesehatan Anak I. EGC. Jakarta<br />
6. Sitohang, Nur Asnah. 2004. Asuhan Keperawatan Pada Bayi Berat Badan Lahir Rendah. USU Repository©2006<br />
7. Sowden, Betz Cicilia. 2002. Keperawatan Pediatric. EGC. Jakarta<br />
8. Speirs, al.1993. Ilmu Kesehatan anak Untuk Perawat. IKIP Semarang Press.Semarang<br />
9. Whaley&#8217;s and Wong. 1996. Clinic Manual of Pediatric Nursing. 4th Edition. Mosby Company<br />
10. Zulhaida Lubis. 2003. Status Gizi Ibu Hamil Serta Pengaruhnya Terhadap Bayi Yang Dilahirkan (On-Line). Terdapat pada : http://tumoutou.net/702_07134/zulhaida_lubis.htm<br />
DEFINISI</p>
<p>Bayi berat badan lahir rendah ( BBLR ) adalah bayi baru lahir yang berat badan lahirnya pada saat kelahiran kurang dari 2500 gram. Dahulu neonatus dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram atau sama dengan 2500 gram disebut prematur. Pada tahun 1961 oleh WHO semua bayi yang baru lahir dengan berat lahir kurang dari 2500 gram disebut Low Birth Weight Infants ( BBLR). Berdasarkan pengertian di atas maka bayi dengan berat badan lahir rendah dapat dibagi menjadi 2 golongan:</p>
<p>1. Prematuritas murni.<br />
Bayi lahir dengan umur kehamilan kurang dari 37 minggu dan mempunyai berat badan sesuai dengan berat badan untuk masa kehamilan atau disebut Neonatus Kurang Bulan Sesuai Masa Kehamilan ( NKBSMK).</p>
<p>2. Dismaturitas.<br />
Bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa kehamilan, dismatur dapat terjadi dalam preterm, term, dan post term. Dismatur ini dapat juga: Neonatus Kurang Bulan &#8211; Kecil untuk Masa Kehamilan (NKB- KMK). Neonatus Cukup Bulan-Kecil Masa Kehamilan ( NCB-KMK ), Neonatus Lebih Bulan-Kecil Masa Kehamilan (NLB- KMK ).<br />
ETIOLOGI</p>
<p>1. Faktor Ibu.</p>
<p>a. Penyakit<br />
Penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan misalnya: perdarahan antepartum, trauma fisik dan psikologis, DM, toksemia gravidarum, dan nefritis akut.</p>
<p>b. Usia ibu<br />
Angka kejadian prematuritas tertinggi ialah pada usia Angka kejadian prematuritas tertinggi ialah pada usia &lt; style=&#8221;font-weight: bold;&#8221;&gt;PATOFISIOLOGI</p>
<p>Secara umum bayi BBLR ini berhubungan dengan usia kehamilan yang belum cukup bulan (prematur) disamping itu juga disebabkan dismaturitas. Artinya bayi lahir cukup bulan (usia kehamilan 38 minggu), tapi berat badan (BB) lahirnya lebih kecil ketimbang masa kehamilannya, yaitu tidak mencapai 2.500 gram. Biasanya hal ini terjadi karena adanya gangguan pertumbuhan bayi sewaktu dalam kandungan yang disebabkan oleh penyakit ibu seperti adanya kelainan plasenta, infeksi, hipertensi dan keadaan-keadaan lain yang menyebabkan suplai makanan ke bayi jadi berkurang.</p>
<p>Gizi yang baik diperlukan seorang ibu hamil agar pertumbuhan janin tidak mengalami hambatan, dan selanjutnya akan melahirkan bayi dengan berat normal. Dengan kondisi kesehatan yang baik, system reproduksi normal, tidak menderita sakit, dan tidak ada gangguan gizi pada masa pra hamil maupun saat hamil, ibu akan melahirkan bayi lebih besar dan lebih sehat daripada ibu dengan kondisi kehamilan yang sebaliknya. Ibu dengan kondisi kurang gizi kronis pada masa hamil sering melahirkan bayi BBLR, vitalitas yang rendah dan kematian yang tinggi, terlebih lagi bila ibu menderita anemia.</p>
<p>Anemia dapat didefinisikan sebagai kondisi dengan kadar Hb berada di bawah normal. Anemia defisiensi besi merupakan salah satu gangguan yang paling sering terjadi selama kehamilan. Ibu hamil umumnya mengalami deplesi besi sehingga hanya memberi sedikit besi kepada janin yang dibutuhkan untuk metabolisme besi yang normal. Selanjutnya mereka akan menjadi anemia pada saat kadar hemoglobin ibu turun sampai di bawah 11 gr/dl selama trimester III. Kekurangan zat besi dapat menimbulkan gangguan atau hambatan pada pertumbuhan janin baik sel tubuh maupun sel otak. Anemia gizi dapat mengakibatkan kematian janin didalam kandungan, abortus, cacat bawaan, BBLR, anemia pada bayi yang dilahirkan, hal ini menyebabkan morbiditas dan mortalitas ibu dan kematian perinatal secara bermakna lebih tinggi. Pada ibu hamil yang menderita anemia berat dapat meningkatkan resiko morbiditas maupun mortalitas ibu dan bayi, kemungkinan melahirkan bayi BBLR dan prematur juga lebih besar.</p>
<p>MANIFESTASI KLINIS</p>
<p>1. Fisik.<br />
- bayi kecil<br />
- pergerakan kurang dan masih lemah<br />
- kepala lebih besar dari pada badan<br />
- berat badan &lt; style=&#8221;font-weight: bold;&#8221;&gt;KOMPLIKASI</p>
<p>1. Sindroma distress respiratori idiopatik</p>
<p>Terjadi pada 10% bayi kurang bulan. Nampak konsolidasi paru progresif akibat kurangnya surfaktan yang menurunkan tegangan permukaan di alveoli dan mencegah kolaps. Pada waktu atau segera setelah lahir bayi akan mengalami :</p>
<p>a) rintihan waktu inspirasi<br />
b) napas cuping hidung<br />
c) kecepatan respirasi leih dari 70/ menit<br />
d) tarikan waktu inspirasi pada sternum ( tulang dada )</p>
<p>Nampak gambaran sinar- X dada yang khas bronkogrm udara dan pemeriksaan gas darah menunjukkan :<br />
a) kadar oksigen arteri menurun<br />
b) konsentrasi CO2 meningkat<br />
c) asidosis metabolic</p>
<p>Pengobatan dengan oksigen yang dilembabkan, antibiotika, bikarbonas intravena dan makanan intravena. Mungkin diperlukan tekanan jalan positif berkelanjutan menggunakan pipa endotrakea. Akhirnya dibutuhkan pernapasan buatan bila timbul gagal napas dengan pernapasan tekanan positif berkelanjutan.</p>
<p>2. Takipnea selintas pada bayi baru lahir</p>
<p>Paru sebagian bayi kurang bulan dan bahkan bayi cukup bulan teteap edematous untuk beberapa jam setelah lahir dan menyebabkan takipnea. Keadaan ini tidak berbahaya, biasanya tidak akan menyebabkan tanda- tanda distress respirasi lain dan membaik kembali 12-24 jam setelah lahir. Perdarahan intraventrikular terjadi pada bayi kurang bulan yang biasanya lahir normal. Perdarahan intraventrikular dihubungkan dengan sindroma distress respiratori idiopatik dan nampaknya berhubungan dengan hipoksia pada sindroma distress respirasi idiopatik. Bayi lemas dan mengalami serangan apnea.</p>
<p>3. Fibroplasias retrolental</p>
<p>Oksigen konsentrasi tinggi pada daerah arteri berakibat pertumbuhan jaringan serat atau fibrosa di belakang lensa dan pelepasan retina yang menyebabkan kebutaan.hal ini dapat dihindari dengan menggunakan konsentrasi oksigen di bawah 40% ( kecuali bayi yang membutuhkan lebih dari 40 % ). Sebagian besar incubator mempunyai control untuk mencegah konsentrasi oksigen naik melebihi 40% tetapi lebih baik menggunakan pemantau oksigan perkutan yang saat ini mudah didapat untuk memantau tekanan oksigen arteri bayi.</p>
<p>4. Serangan apnea</p>
<p>Serangan apnea disebabkan ketidakmampuan fungsional pusat pernapasan atau ada hubungannya dengan hipoglikemia atau perdarahan intracranial. Irama pernapasan bayi tak teratur dan diselingi periode apnea. Dengan menggunakan pemantau apneadan memberikan oksigen pada bayi dengan pemompaan segera bila timbul apnea sebagian besar bayi akan dapat bertahan dai serangan apnea, meskipun apnea ini mungkin berlanjut selama beberapa hari atau minggu. Perangsang pernapasan seperti aminofilin mungkin bermanfaat.</p>
<p>5. Enterokolitis nekrotik</p>
<p>Keadaan ini timbul terutama pada bayi kurang bulan dengan riwayat asfiksia. Dapat juga terjadi setelah transfuse tukar. Gejalanya : kembung, muntah, keluar darah dari rectum dan berak cair, syok usus dan usus mungkin mengalami perforasi. Pengobatan diberikan pengobatan gentamisin intravena, kanamisin oral. Hentikan minuman oral dan berikan pemberian makanan intravena. Mungkin diperlukan pembedahan</p>
<p>PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK</p>
<p>1. Jumlah sel darah putih : 18.000/mm3, netrofil meningkat sampai 23.000-24.000/mm3, hari pertama setelah lahir (menurun bila ada sepsis ).<br />
2. Hematokrit (Ht) : 43% &#8211; 61% (peningkatan sampai 65 % atau lebih menandakan polisitemia, penurunan kadar menunjukkan anemia atau hemoragic prenatal /perinatal).<br />
3. Hemoglobin (Hb) : 15-20 gr/dl (kadar lebih rendah berhubungan dengan anemia atau hemolisis berlebihan).<br />
4. Bilirubin total : 6 mg/dl pada hari pertama kehidupan, 8 mg/dl 1-2 hari, dan 12 mg/dl pada 3-5 hari.<br />
5. Destrosix : tetes glukosa pertama selama 4-6 jam pertama setelah kelahiran rata-rata 40-50 mg/dl meningkat 60-70 mg/dl pada hari ketiga.<br />
6. Pemantauan elektrolit ( Na, K, CI) : biasanya dalam batas normal pada awalnya.<br />
7. Pemeriksaan Analisa gas darah.</p>
<p>PEMERIKSAAN PENUNJANG</p>
<p>1. Pemeriksaan pertumbuhan dan perkembangan janin intra uterina serta menemukan gangguan pertumbuhan misalnya dengan pemeriksaan ultra sonografi.<br />
2. Memeriksa kadar gula darah (true glukose) dengan dextrostix atau laboratorium kalau hipoglikemia perlu diatasi.<br />
3. Pemeriksaan hematokrit dan mengobati hiperviskositasnya.<br />
4. Bayi membutuhkan lebih banyak kalori dibandingkan dengan bayi SMK.<br />
5. Melakukan tracheal-washing pada bayi yang diduga akan menderita aspirasi mekonium.<br />
6. Sebaiknya setiap jam dihitung frekwensi pernafasan dan bila frekwensi lebih dari 60x/ menit dibuat foto thorax.</p>
<p>PENATALAKSANAAN</p>
<p>Mengingat belum sempurnanya kerja alat-alat tubuh yang perlu untuk pertumbuhan dan perkembangan serta penyesuaian diri dengan lingkungan hidup di luar uterus maka perlu diperhatikan pengaturan suhu lingkungan, pemberian makanan dan bila perlu oksigen, mencegah infeksi serta mencegah kekurangan vitamin dan zat besi.</p>
<p>1. Pengaturan suhu badan bayi prematuritas/ BBLR<br />
Bayi prematuritas dengan cepat akan kehilangan panas badan dan menjadi hipotermia, karena pusat pengaturan panas badan belum berfungsi dengan baik, metabolismenya rendah dan permukaan badan relatif luas oleh karena itu bayi prematuritas harus dirawat di dalam inkubator sehingga panas badannya mendekati dalam rahim. Bila bayi dirawat dalam inkubator maka suhu bayi dengan berat badan , 2 kg adalah 35 derajat celcius dan untuk bayi dengan berat badan 2-2,5 kg adalah 33-34 derajat celcius. Bila inkubator tidak ada bayi dapat dibungkus dengan kain dan disampingnya ditaruh botol yang berisi air panas, sehingga panas badannya dapat dipertahankan.</p>
<p>2. Nutrisi<br />
Alat pencernaan bayi prematur masih belum sempurna, lambung kecil, enzim pencernaan belum matang, sedangkan kebutuhan protein 3-5 gr/kg BB dan kalori 110 kal/kg BB sehingga pertumbuhannya dapat meningkat. Pemberian minum bayi sekitar 3 jam setelah lahir dan didahului dengan menghisap cairan lambung. Refleks menghisap masih lemah,sehingga pemberian minum sebaiknya sedikit demi sedikit, tetapi frekwensi yang lebih sering. ASI merupakan makanan yang paling utama,sehingga ASI lah yang paling dahulu diberikan. Bila faktor menghisapnya kurang maka ASI dapat diperas dan diminumkan dengan sendok perlahan-lahan atau dengan memasang sonde menuju lambung. Permulaan cairan diberikan sekitar 50-60 cc/kg BB/ hari dan terus dinaikkan sampai mencapai sekitar 200 cckg BB/ hari.</p>
<p>3. Menghindari infeksi<br />
Bayi prematuritas mudah sekali terkena infeksi, karena daya tahan tubuh yang masih lemah,kemampuan leukosit masih kurang dan pembentukan anti bodi belum sempurna. Oleh karena itu, upaya preventif sudah dilakukan sejak pengawasan antenatal sehingga tidak terjadi persalinan prematuritas (BBLR). Dengan demikian perawatan dan pengawasan bayi prematuritas secara khusus dan terisolasi dengan baik.</p>
<p>PENGKAJIAN</p>
<p>1. Aktivitas/ istirahat<br />
Bayi sadar mungkin 2-3 jam beberapa hari pertama tidur sehari rata-rata 20 jam.</p>
<p>2. Pernafasan<br />
Takipnea sementara dapat dilihat, khususnya setelah kelahiran cesaria atau persentasi bokong. Pola nafas diafragmatik dan abdominal dengan gerakan sinkron dari dada dan abdomen, perhatikan adanya sekret yang mengganggu pernafasan, mengorok, pernafasan cuping hidung.</p>
<p>3. Makanan/ cairan<br />
Berat badan rata-rata 2500 – 4000 gram ; kurang dari 2500 gr menunjukkan kecil untuk usia gestasi, pemberian nutrisi harus diperhatikan. Bayi dengan dehidrasi harus diberi infus. Beri minum dengan tetes ASI/ sonde karena refleks menelan BBLR belum sempurna,kebutuhan cairan untuk bayi baru lahir 120 &#8211; 150m1/kg BB/ hari.</p>
<p>4. Berat badan<br />
Kurang dari 2500 gram</p>
<p>5. Suhu<br />
BBLR mudah mengalami hipotermia, oleh sebab itu suhu tubuhnya harus dipertahankan.</p>
<p>6. Integumen<br />
Pada BBLR mempunyai adanya tanda-tanda kulit tampak mengkilat dan kering.</p>
<p>DIAGNOSA KEPERAWATAN</p>
<p>Tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan maturitas pusat pernafasan, keterbatasan perkembangan otot, penurunan energi/kelelahan, ketidakseimbangan metabolik.</p>
<p>INTERVENSI KEPERAWATAN</p>
<p>1. Tidak Efektifnya Termoregulasi<br />
Pada bayi lahir dengan berat badan bayi rendah dapat terjadi termoregulasi yang tidak efektif hal ini dapat disebabkan karena jaringan lemak pada subkutan yang kurang, sistem termoregulasi yang imatur, masalah tersebut dapat dilakukan tindakan keperawatan dengan cara mempertahankan temperatur pada aksila (36,5-37,2 derajat Celsius) dengan cara mengkaji temperatur pada aksila tiap 1-4 jam, mempertahankan suhu lingkungan yang netral, mempertahankan suhu bayi ke dalam inkubator, mempertahankan kestabilan kebutuhan oksigen dengan mengkaji status respiratori.</p>
<p>2. Intoleransi Aktivitas<br />
Intoleransi aktivitas ini dapat disebabkan karena prematuritas serta sistem susunan syaraf yang imatur, masalah ini dapat diatasi dengan cara mempertahankan kestabilan oksigen dengan melakukan monitoring pada nadi, mengkondisikan lingkungan yang nyaman, menyediakan monitoring jantung dan paru, mengurangi stimulasi dengan mengkaji selama aktivitas.</p>
<p>3. Resiko Tinggi Gangguan Integritas Kulit<br />
Masalah ini dapat disebabkan karena adanya faktor mekanik, adanya imaturitas pada kulit dan adanya imobilitas, masalah ini dapat dilakukan tindakan keperawatan dengan mengkaji kulit dan membran mukosa tiap 2-4 jam, mengatur posisi tiap 2-4 jam, menghindari penggunaan lotion, krem atau powder yang berlebih.</p>
<p>4. Resiko Tinggi Infeksi<br />
Resiko tinggi infeksi dapat disebabkan karena sistem imunitas yang masih imatur atau prosedur invasif, masalah ini dapat diatasi dengan mengkaji tanda vital tiap 1-2 jam, mempertahankan lingkungan dalam suhu normal, memperthankan prinsip aseptik sebelum kontak dengan pasien.</p>
<p>Cara Perawatan Bayi dalam Inkubator</p>
<p>Merupakan cara memberikan perawatan pada bayi dengan dimasukkan ke dalam alat yang berfungsi membantu terciptanya suatu lingkungan yang cukup dengan suhu yang normal. Dalam pelaksanaan perawatan di dalam inkubator terdapat dua cara yaitu dengan cara tertutup dan terbuka.</p>
<p>Inkubator tertutup:<br />
1. Inkubator harus selalu tertutup dan hanya dibuka dalam keadaan tertentu seperti apnea, dan apabila membuka incubator usahakan suhu bayi tetap hangat dan oksigen harus selalu disediakan.<br />
2. Tindakan perawatan dan pengobatan diberikan melalui hidung.<br />
3. Bayi harus keadaan telanjang (tidak memakai pakaian) untuk memudahkan observasi.<br />
4. Pengaturan panas disesuaikan dengan berat badan dan kondisi tubuh.<br />
5. Pengaturan oksigen selalu diobservasi.<br />
6. Inkubator harus ditempatkan pada ruangan yang hangat kira-kira dengan suhu 27 derajat celcius.</p>
<p>Inkubator terbuka:<br />
1. Pemberian inkubator dilakukan dalam keadaan terbuka saat pemberian perawatan pada bayi.<br />
2. Menggunakan lampu pemanas untuk memberikan keseimbangan suhu normal dan kehangatan.<br />
3. Membungkus dengan selimut hangat.<br />
4. Dinding keranjang ditutup dengan kain atau yang lain untuk mencegah aliran udara.<br />
5. Kepala bayi harus ditutup karena banyak panas yang hilang melalui kepala.<br />
6. Pengaturan suhu inkubator disesuaikan dengan berat badan sesuai dengan ketentuan di bawah ini.</p>
<p>KESIMPULAN</p>
<p>Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi baru lahir yang berat badan lahirnya pada saat kelahiran kurang dari 2500gr. BUR dapat dibagi 2 golongan yaitu prematuritas murni dan dismaturitas. Bayi yang lahir dengan berat badan lahir rendah sering mengalami masalah sukar bernafas, sukar dalam pemberian minum ,ikterus berat dan infeksi.Bayi juga rentan mengalami hipotermi jika tidak dalam incubator. Bayi ini memerlukan perawatan khusus.<br />
Bila fasilitas tempat bayi dilahirkan tidak memadai untuk perawatan bayi, maka bayi harus segera dirujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas khusus untuk bayi yang lahir dengan berat badan rendah. Selama perjalanan ke tempat rujukan pastikan bahwa bayi terjaga tetap hangat. Bungkus bayi dengan kain lembut,kering,selimuti dan pakai topi untuk menghindari kehilangan panas. Prognosis BBLR akan baik bila ditangani dengan cepat dan perawatan yang intensif.</p>
<p>Referensi</p>
<p>1. Anonim. 2006. Bayi Berat Lahir Rendah (On-Line). Terdapat pada : http://www.keluargasehat.com/keluarga-ibuisi<br />
2. Ennis, Sharon Axton. 2003. Pediatric Nursing Care Plans. 2nd Edition. Pearson Education. New Jersey<br />
3. Faras Handayani. 2006. Berat Badan Lahir Rendah Tak Selalu Dirawat Di Rs (On-Line). Terdapat pada : http://www.tabloid-nakita.com/artikel<br />
4. Hidayat, Alimul A.2005. Pengantar ilmu keperawatan anak 1. Penerbit Salemba Medica: Jakarta<br />
5. Nelson. 1999. Ilmu Kesehatan Anak I. EGC. Jakarta<br />
6. Sitohang, Nur Asnah. 2004. Asuhan Keperawatan Pada Bayi Berat Badan Lahir Rendah. USU Repository©2006<br />
7. Sowden, Betz Cicilia. 2002. Keperawatan Pediatric. EGC. Jakarta<br />
8. Speirs, al.1993. Ilmu Kesehatan anak Untuk Perawat. IKIP Semarang Press.Semarang<br />
9. Whaley&#8217;s and Wong. 1996. Clinic Manual of Pediatric Nursing. 4th Edition. Mosby Company<br />
10. Zulhaida Lubis. 2003. Status Gizi Ibu Hamil Serta Pengaruhnya Terhadap Bayi Yang Dilahirkan (On-Line). Terdapat pada : http://tumoutou.net/702_07134/zulhaida_lubis.htm</p></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yusniraharjo.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yusniraharjo.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yusniraharjo.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yusniraharjo.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yusniraharjo.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yusniraharjo.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yusniraharjo.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yusniraharjo.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yusniraharjo.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yusniraharjo.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yusniraharjo.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yusniraharjo.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yusniraharjo.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yusniraharjo.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yusniraharjo.wordpress.com&amp;blog=7440325&amp;post=55&amp;subd=yusniraharjo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yusniraharjo.wordpress.com/2009/05/04/asuhan-keperawatan-pada-bayi-berat-lahir-rendah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9f3bc14133df71eef8a5cf6bf225199c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yusni raharjo</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
